Jumat, 22 Juli 2016

Seri 6 : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (4)

"(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah (menjadi muslim seutuhnya), sedang ia (senantiasa berusaha untuk tetap) berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka (baik di dunia maupun di akhirat) dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqarah : 112)

***

Cuaca pagi ini terlihat sangat cerah, guratan cahaya merah mulai terlihat di langit yang cerah itu, pertanda waktu sholat subuh akan segera tiba. Suara kokokan ayam yang saling bersahutan seolah hendak membangunkan jiwa-jiwa yang tengah terlelap dibuai mimpi, juga diselimuti oleh setan agar mengabaikan panggilan dan seruan untuk mengerjakan sholat subuh. Sesekali juga terdengar gonggongan anjing di ujung sana, seolah hendak melengkapi simponi indah pada rangkaian dzikir di subuh yang syahdu itu.

Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB, sepertinya sebentar lagi adzan subuh untuk wilayah Medan akan segera berkumandang. Sembari menunggu adzan subuh, kurebahkan tubuh ini sambil terus lisanku memperbanyak lantunan kalimat-kalimat istighfar.

"Ah... kemarin kan aku dikasih hadiah Al Quran sama Ustadz Ahmad", tiba-tiba aku teringat Al Quran pemberian Ustadz Ahmad yang diberikannya sebelum kami berpisah.

Segera saja kuambil tas yang tergeletak di sudut kamarku, lalu kuambil Al Quran berwarna merah itu.

Dari Muhammad, teruntuk adikku fiLlah Ronny

"Romantis juga Ustadz Ahmad ini", cetusku sambil menyunggingkan sebuah senyuman kecil

"Tapi apa artinya fiLlah ya? Perasaan nama depanku cuma Ronny loh, gak pake fiLlah!", tanyaku dalam hati

Walau di pesantren kilat tempo hari diampu oleh 3 Ustadz, yakni Ustadz Ahmad, Usyadz Syahrul dan Ustadz Chaidar, tapi yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah Ustadz Ahmad ini. Beliau terlihat lebih cerdas, bahasa yang digunakan juga kebanyakan bahasa akal, sehingga anak teknik seperti saya tentunya sangat mudah sekali menerimanya. Selain itu, Ustadz Ahmad juga paling deket sama kita (peserta pesantren kilat), selalu tanya kabar kalau berpapasan, udah makan atau belum, pokoknya perhatiannya mirip perhatian seorang kekasih pada kekasih yang dicintainya.

Wajar jika mayoritas peserta saat itu senang dan dekat dengan Ustadz Ahmad, termasuk diriku. Biasanya sebelum sholat zuhur, kami berbincang-bincang santai dengan para ustadz, dan aku biasanya langsung merapat mendekat ke Ustadz Ahmad ini, hehehe

"Kamu pernah ngaji dimana aja Ron?", tanya Ustadz Ahmad kepadaku

"Dulu waktu SMP pernah ikut khuruj di Jama'ah Tabligh Ustadz", jawabku

"Owh pantes...", kata Ustadz Ahmad. "Masih aktif di Jama'ah Tabligh gak?"

"Pantes kenapa Ustadz? Semenjak saya kos disini, gak pernah lagi ikut khuruj", jawabku mantap

"Ente beda dari yang lain, hehehe", jawab Ustadz Ahmad sambil sedikit terkekeh

"Beda gimana? Agak gantengan dikit yak? Hahaha", aku pun gak mau kalah, narsis dikit gak apa-apalah

"Hahaha... Nanti saya minta email dan alamat kosan antum aja ya akhe", kata Ustadz Ahmad

"Siap... ingatkan nanti kalo saya lupa ya Ustadz", jawabku

Entah kenapa perasaanku saat ngobrol dan bercanda dengan Ustadz Ahmad ini kayak perasaan nyaman seorang adik ke abangnya. Maklum, dari kecil saya udah kehilangan sosok abang yang menyayangi adiknya. QadaruLlah (atas takdir Allah) abangku meninggal di usia 6 tahunan karena menyelamatkan aku, saat itu aku masih berumur 6 atau 7 bulan. Semenjak itu aku jadi anak yang paling tua dan mempunyai 3 orang adik laki-laki dan 1 orang adik yang juga menjadi tabungan orang tuaku di akhirat, sama seperti abangku. (Soon in syaa Allah : My Brother, My Hero)

***

Udah lama sekali aku gak pernah baca Al Quran.

Kucoba membuka dan membacanya lagi mulai pagi subuh itu, ada seberkas cahaya ketenangan yang kurasa masuk ke dalam dada ini, ada semburat kenyamanan saat kubaca baris tiap barisnya. Kenapa selama ini aku meninggalkanmu? Ataukah karena banyaknya dosaku sehingga Al Quran enggan menghampiriku?

Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Allahu Akbar... Allahu Akbar...

AlhamduliLlah... kumandang adzan subuh terdengar lantang memecah keheningan pagi itu. Alunan syahdu suara sang mu'adzin mampu meneduhkan keguncangan dan bimbang di dalam dada. Segera saja kulangkahkan kaki untuk segera berangkat ke Masjid.

Kicauan burung pagi itu mengikuti langkah kakiku menuju masjid, merdu bersahutan seolah ingin memberikan aku semangat agar terus istiqomah di atas jalan ini, di atas jalan hidayah yang dicari. Hembusan angin pagi itu juga memberikan kekuatan baru, kekuatan dan azzam yang semakin membulatkan tekadku untuk merubah jalan hidupku, merubah kebiasan-kebiasaan burukku.

***

Selepas sholat subuh, tiba-tiba aku ingat keluargaku, ayah ibu dan juga adik-adikku, lalu kuangkat tanganku serasa mendoakan mereka

"Yaa Allah... Ampunilah dosa-dosaku dan kedua orang tuaku, sayangi dan kasihilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi dan mengasihiku sewaktu aku masih kecil..."

"Yaa Allah... izinkan dan perkenankanlah hamba untuk memperantarai hidayah bagi kedua orang tuaku. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu, mereka terkadang lalai untuk beribadah atau sekedar bersyukur kepada-Mu Yaa Rabb, itu semua karena mereka ingin anak-anaknya bahagia, ingin agar anak-anaknya tidak kelaparan juga kekurangan harta, maka maafkanlah keduanya Yaa Ghaffar..."

"Yaa Allah... hamba telah menjadi contoh yang tidak baik bagi adik-adiku, hamba telah memberikan teladan yang buruk untuk mereka, sehingga mereka saat ini jauh dari-Mu, maka bantulah hamba untuk menyadarkan mereka, serta jauhkanlah mereka dari pengaruh teman-teman yang buruk Yaa Rahman..."

"Yaa Allah... bantulah hamba dan kabulkanlah doa hamba... aamiin..."

Rasa kangen ini tak biasanya datang, kangen untuk pulang dan mengajak ayah ibu dan adik-adik ikut merasakan ketenangan hidup di bawah kucuran dan naungan hidayah dari Allah.

Ya! Aku harus pulang dan menyampaikan hal ini kepada keluargaku...

Bersambung in syaa Allah

Next : Keluargaku...

Rabu, 20 Juli 2016

Seri 5 : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (3)

"Katakanlah : Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar : 53)

***

"Kapan kau balek Jack?"

"Tadi sore Jef!", jawabku

Jefry adalah temen yang lumayan deket denganku. Walau Jefry ini beragama Kristen, tapi kami semua tidak pernah mempermasalahkannya saat sedang berkumpul. Sedangkan aku biasanya dipanggil Jack olehnya, katanya biar agak kerenan dikit, hehehe

"Udah lama kita gak latihan loh!", tanya Jefry

Biasanya kalau udah diajak latihan gini, aku paling semangat walau banyak badai yang menghadang di depan. Bukan apa-apa sih, latihan ini biasanya kujadikan media untuk melepaskan semua beban rasa dan jiwa yang sedang melanda. Kalau sudah sampai studio, biasanya kita suka gila-gilaan setelah latihan usai. Studio yang dimaksud studio musik loh ya, bukan studio foto :D

Tapi sekarang sedikit berbeda, gairah untuk berangkat ke studio hilang sama sekali, keinginan untuk melampiaskan rasa pun lenyap ditelan diam.

"Keknya lagi males aku Jef, capek kali badanku kurasa", aku coba mencari alasan yang bisa diterima olehnya.

"Owh yaudah, istirahatlah kau dulu", jawab Jefry sambil berlalu pergi

***

Kulihat jam baru menunjukkan pukul 22.00 WIB, masih sore pikirku. Di saat normal, biasanya jam segini aku masih nongkrong di warungnya Jefry atau di basecampnya anak-anak IRMANURI tempo hari, tapi malam ini, ada sesuatu yang menghalangi hasratku untuk melangkahkan kaki kesana.

Kubaringkan tubuh ini, sambil tanganku meraih tombol power radio yang berada tepat di atas kepala saat berbaring.

"Jam segini biasanya KISS FM lumayan acaranya", pikirku

Kunikmati setiap alunan musik malam itu dengan syahdu, sambil sesekali pikiranku menerawang jauuuh, meninggalkan tubuh yang tengah berbaring di atas kasur ini.

"Aku harus berubah!!!"

Tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat dari dalam hati untuk mengungkapkannya, Ya! Sepertinya aku memang harus berubah.

Sebelum mataku terlelap, aku sempatkan berdoa kepada Allah agar menolongku untuk bisa bangun di sepertiga malam, karena aku ingin curhat, ingin menumpahkan segala rasa di dalam dada dan jiwa yang mulai kuat gejolaknya ini.

Bismika allahumma amuutu wa ahya...

***

Aku terbangun menjelang jam 03.00 pagi, alhamduliLlah...

Rasanya suasana kedisplinan di pesantren kilat masih terbawa hingga pagi ini, sehingga kagetnya saat dibangunin panitia juga belum hilang sepenuhnya.

Setelah bersih-bersih dan wudhu, kubentangkan sajadah lalu aku berdiri mantap untuk mengerjakan sholat tahajud.

"Assalamu'alaykum warahmatuLlahi..."

Aku duduk sejenak setelah salam, kuperbanyak membaca istighfar dengan penuh kekhusyukan. Tiba-tiba saja aku teringat semua dosa-dosa sebelumnya, sambil berurai air mata ku angkat tangan ini sambil berdoa

"Yaa Allah... Engkau Maha Tahu lagi Maha Melihat apa yang telah aku lakukan sebelum ini..."

"Betapa banyak orang yang telah saya sakiti, banyak maksiat telah kucicipi, maka kemanakah lagi aku harus mengharapkan pengampunan kecuali kepada-Mu yaa Illahy..."

Malam itu, kubiarkan air mata ini mengalir sederas-derasnya, membasahi wajah yang penuh noda dosa. Kubiarkan mata yang hampir tidak pernah membaca ayat-ayat Allah ini basah oleh air mata taubat. Mata yang selalu melihat tatkala diri ini diam-diam bermaksiat di belakang keramaian manusia. Mata yang senantiasa rutin melihat berbagai macam hal-hal yang dilarang oleh Allah untuk melihatnya, dan mata yang tak pernah menangis karena takut kepada Allah...

"Rabbi... tak ada yang kuharapkan saat ini kecuali hanyalah ampunan yang besar dari sisi-Mu"

"Berilah kesempatan kepada hamba untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah hamba lakukan"

"Dekatkanlah hamba kepada orang-orang yang mereka juga dekat kepada-Mu, serta jauhkan hamba dari orang-orang yang mereka juga menjauh dari-Mu..."

Malam itu hujan air mata tak bisa lagi terbendung, seolah ia tak mau berhenti, hingga nafas dan dan sesenggukkan pun berlomba dalam sunyi, menambah irama penyesalan yang semakin menyayat hati, mencoba untuk menumpahkan segala beban rasa di dalam jiwa, menanti petunjuk juga bimbingan Allah Sang Pencipta.

Pagi itu, aku pun memasuki babak yang baru dalam episode kehidupanku...

BismiLlahi tawakkaltu 'alaLlahi...

Bersambung in syaa Allah

Next : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (4)

Selasa, 19 Juli 2016

Seri 4 : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (2)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fussilat : 30)

***

"Sesungguhnya seluruh anak keturunan Adam itu pasti dan mesti pernah berbuat salah dan dosa", nasehat terakhir Ustadz Ahmad pada malam terakhir pesantren kilat itu.

Beliau melanjutkan, "Dan sebaik-baik orang yang pernah tergelincir dalam khilaf dan dosa, adalah mereka yang dengan segera bertaubat kepada Allah"

"Apakah Allah akan mengampuni dosa yang banyak banget pak ustadz?", pertanyaan Jundi ini memecah keheningan di dalam ruangan saat itu

"Jangankan Jundi, sahabat Nabi saja pernah berbuat dosa, mereka juga pernah melakukan kesalahan. Padahal mereka hidup pada zaman dimana Nabi masih hidup, masih sering kasih nasehat kepada mereka. Sebagian dari mereka masih ada yang suka minum-minuman keras, ada juga yang suka berzina, berjudi, serta dosa-dosa lainnya."

"Para sahabat Nabi ada yang suka main musik juga gak Ustadz?"

"Orang Arab itu mayoritas menyukai syair, dan biasanya syair-syair tersebut selalu diiringi dengan musik-musik. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan mabuk-mabukan dan mengundang penari-penari wanita yang bisa menghibur mereka"

"Berarti gak jauh beda dengan kita disini ya Ustadz?", saya pun penasaran dan ikut memberikan pertanyaan

"Iya betul, selama ia masih berpredikat sebagai manusia dan anak keturunan Nabi Adam, maka pasti ia tidak akan pernah lepas dari jerat dan perangkap dosa dan khilaf. Oleh sebab itu, jadilah kalian sebagai orang-orang yang terbaik!"

"Dengan cara segera bertaubat dari dosa yang pernah kita lakukan ya Ustadz?"

"Betul... segeralah bertaubat, sesali dan jangan ulangi lagi dosa-dosa yang sudah terlanjur kita kerjakan itu. Mudah-mudahan Allah terima taubat kita dan senantiasa memberikan hidayah agar kita tidak mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada-Nya"

Deg...

Kalimat terakhir Ustadz Ahmad serasa mengiang-ngiang di dalam telinga dan pikiranku saat itu.

"...agar kita tidak mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada-Nya"

Ah... tak terasa ada lelehan air hangat yang tiba-tiba membasahi wajahku, buru-buru kuseka air tersebut agar tidak terlihat kawan-kawan yang lain. Entah kenapa semenjak ikut pesantren kilat ini rasanya saya berubah menjadi laki-laki tercengeng di seantero kota Medan saat itu, dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis, nangis kok dikit-dikit, gubrak...

Tak terasa hari itu adalah hari terakhir kebersamaan kami. Pertemuan yang berkesan ini pun harus diakhiri dengan yang namanya perpisahan, sedih. Sebelum berpisah, Ustadz Ahmad sempat memberikan nasehat kepada kami semua, para peserta pesantren kilat akbar,

"Kalian sudah mengenal Allah, maka takutlah kepada-Nya saat kalian tergoda ingin melakukan kemaksiatan. Kalian juga sudah faham bagaimana dahsyat dan ngerinya siksaan di dalam neraka, maka jauhilah segala perbuatan dan dosa yang bisa memasukkan kalian ke dalamnya. Segeralah bertaubat kepada Allah, mumpung badan masih sehat, jangan tunda-tunda lagi. Lalu istiqomahlah untuk selalu beribadah kepada Allah, walau dengan amalan-amalan yang kecil!!!"

"In syaa Allah Ustadzzzz...", kami semua hampir serempak menjawabnya

***

Siang itu saya kembali ke kosan dengan langkah yang sedikit gontai, langkah yang berjalan di atas tanah, namun perasaan dan pikiran terbang jauh meninggalkannya. Bumi yang kupijak saat itu terasa lebih lebar dari biasanya, ataukah jiwaku yang selama ini berlaku sombong telah mengkerdilkannya?
Ah... ada gejolak yang kurasa

Jarak sekolah ke kosan tidak begitu jauh, kurang lebih hanya 100 meter. Oh iya, karena memang rumahku cukup jauh dari sekolah, maka dari awal saat diterima di sekolah ini, aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kos yang dekat dengan sekolah. Untuk membayar uang sewa tersebut, saya nyambi bantu-bantu tetangga kosan yang punya usaha rental komputer. Dan alhamduliLlah gaji pokoknya saja cukup untuk membayar uang sewa kos saat itu, sedang untuk biaya makan sehari-hari, saya dapat dari sisa uang beasiswa, dana supersemar dan BKM (Bantuan Khusus Murid) yang diberikan sekolah, alhamduliLlah... Itupun masih ada tambahan dari hasil "ngamen" di cafe atau undangan event hiburan yang lumayan untuk ukuran anak SMK saat itu.

Sesampainya di kosan, sejenak kuperhatikan keadaan kamar yang terasa asing untuk sesaat. Terlihat poster besar Curt Cobain terpampang di tembok dekat kasur. Di kamarku emang banyak terpampang poster-poster musisi dan atlet, seperti Green Day, Linkin Park, Ronaldo, Totti, Batistuta, banyak dan hampir memenuhi tembok. Ada perasaan yang beda saat saya duduk memandangi semua poster yang terpampang.

Di kasur terlihat sebuah gitar tergeletak dengan rapi, gitar Yamaha berwarna biru muda itu adalah teman terakrab di saat saya merasa sepi. Biasanya saat seperti ini adalah waktu yang pas untuk bermain gitar, tapi entah kenapa saat itu ada perasaan aneh saat tanganku memegang dan coba memainkannya.

Malam itu, rasanya saya hanya ingin di kamar, menikmati perasaan baru ini, sambil mendengarkan musik! Ya, inilah satu kebiasaanku yang aneh mungkin, gak bisa tidur kalau gak denger musik, hehehe. Namun perasaan ini masih berasa getarannya, perasaan yang mendorong untuk terus menjadi pribadi baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Kita memang tak bisa merubah masa lalu
Yang mungkin dipenuhi dengan cerita penuh sembilu
Banyak kenangan yang terkadang membuat ngilu
Apalagi sampai diketahui orang lain, tentu sangat malu.

Siapa yang tak pernah salah?
Siapa yang tak bisa khilaf?

Semua orang pasti pernah berbuat keliru
Aku, dia, mereka juga kamu
Maka jangan berhenti berharap karena masa lalu
Mari kita terus perbaiki diri dan bergerak maju
Segera bertaubat juga perbanyak amalanmu
Untuk menutupi dan memperbaiki dosa-dosa itu
Jangan putus asa karena Allah Maha Tahu
Allah juga akan menerima taubatmu, maka jangan RAGU!!!

Bersambung in syaa Allah

Next : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (3)

Senin, 18 Juli 2016

Seri 3 : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (1)

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran : 104)

***

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ikut acara pesantren kilat seperti ini. Waktu masih SMP dulu malah hampir setiap tahun ada acara pesantren kilat di sekolah, dan semua siswa yang beragama Islam diwajibkan untuk ikut. Tahun kemaren juga sebenarnya saya ikut pesantren kilat yang diadakan oleh Ikatan Remaja Masjid Nurul Islam (IRMANURI) di deket kosan, tepatnya di jalan Letda Sujono. Bahkan saat itupun saya dinobatkan sebagai peserta lelaki terbaik, bukan sombong sih, cuma pamer, piss :D

Namun apa yang membedakan pesantren kilat ini dengan pesantren kilat lain yang pernah saya ikuti sebelumnya? Selain faktor hidayah yang Allah berikan, saya rasa ada 2 faktor yang menjadikan nilai plus pada pesantren kilat ini.

1. Dari Sisi Materi Yang Disajikan.

Pada pesantren kilat sebelum-sebelumnya, materi yang disajikan tidak runut dan sistematis, malah terkesan "yang penting ada materi keislaman". Sedangkan pada pesantren kilat akbar ini, materi yang disajikan sangat sistematis dan bisa menggiring pola pikir pesertanya untuk ikut meresapi setiap ibroh dan maksud dari isi materi.

Seperti misalnya materi awal yang diberikan, yakni Ta'riful Insan (Mengenal Hakekat Manusia), dimana saat itu ustadz menjelaskan tentang proses terciptanya seorang manusia, mulai dari pembentukan janin hingga dilahirkan. Saat itu ustadz mengatakan, "Dalam proses pembuahan saja, Allah sengaja memilih benih (sel sperma) yang mengangkut antum (kalian) di dalamnya, sehingga benih tersebut bisa berhasil bertemu dengan sel telur ibu antum. Padahal benih yang berusaha bertahan dan ingin berhasil menjumpai sel telur itu banyak jumlahnya, bahkan sampai hitungan jutaan benih. Namun sekali lagi, Allah memilih antum dan mentakdirkan benih lainnya mati dan gagal. Lalu mengapa ketika lahir dan sudah dewasa antum malah sombong dan ingkar kepada Allah? Padahal Dia-lah yang telah menolong antum semenjak antum masih berbentuk benih?"

Menerima pertanyaan cerdas dan masuk akal seperti ini membuat saya terdiam dan merenung, rasanya emang bener jika saya ini adalah orang yang sombong kepada Allah. Sudah belasan tahun saya hidup di dunia, menerima berbagai nikmat dari-Nya secara percuma (gratis), namun masih juga malas dan tidak mau beribadah kepada-Nya, memalukan!

Ini adalah malam pertama dimana saya menangis saat sholat. Pertanyaan tadi bagi saya seperti layaknya sebuah dentuman bom yang dahsyat, sehingga mampu membangunkan kesadaran saya yang mungkin sudah lama tertidur pulas dibuai oleh semunya bayangan mimpi yang terlihat indah.

Setelah menerima materi Ta'riful Insan ini, lalu keesokan harinya kami diberikan materi Ma'rifatuLlah, yakni materi yang menjelaskan tentang bagaimana caranya kita bisa berkenalan dengan Allah. Materi ini pun lagi-lagi bisa berhasil mempengaruhiku, dimana memang sebelumnya saya merasa ingin sekali kembali kepada Allah, namun masih bingung bagaimana caranya. AlhamduliLlah saya bisa dipertemukan dengan ustadz-ustadz yang cerdas dan bisa mengalahkan ego kesombonganku saat itu dengan penjelasan serta dalil yang sistematis dan tak bisa diterima oleh pikiran dan hati pendengarnya.

2. Panitia Yang Mengawal Acaranya

Panitia pesantren akbar ini terdiri dari beberapa panitia ikhwan dan belasan panitia akhwat. Dari sisi pakaian dan penampilan, panitia ikhwan tidak banyak berbeda dengan panitia ikhwan pada acara pesantren kilat lain yang pernah saya ikuti. Namun panitia akhwatnya sedikit berbeda, yakni kebanyakan dari mereka menggunakan niqob alias cadar, belum pernah saya mengikuti pesantren kilat yang di dalamnya ada panitia akhwat bercadar.

Namun sebenarnya bukan hal itu saja yang menjadikan pesantren kilat akbar ini terasa berbeda dari pesantren kilat sebelumnya. Hal lain yang menjadikannya berbeda adalah kehati-hatian panitia ikhwan dan panitia akhwat dalam berkomunikasi, yakni mereka sangat menjaga diri dari yang namanya khalwat (berdua-duaan dengan bukan mahrom di tempat yang sunyi).

Sering saya perhatikan, ketika panitia ikhwan berpapasan dengan panitia akhwat, mereka mengucapkan salam, namun mata mereka semuanya menunduk dan tidak melihat ke arah lawan bicaranya. Belum lagi saat panitia ikhwan membutuhkan sesuatu kepada panitia akhwatnya, maka biasanya panitia ikhwan ngobrolnya dari balik tembok, tidak berhadapan langsung dengan panitia akhwatnya, terdengar sedikit aneh memang.

Berbeda dengan panitia pada pesantren kilat sebelumnya yang pernah saya ikuti, mereka terlihat akrab sekali antara satu dengan yang lain, seolah tidak ada sekat dan pembeda antara panitia ikhwan dengan panitia akhwat. Hal ini memang bukan hal yang aneh bagiku, karena memang kehidupan kami di OSIS dan Paskibraka tidak jauh berbeda, malah kami sepertinya sedikit lebih "berani" dalam hal ini.

Dari perbedaan cara bergaul panitia ikhwan dan akhwat yang cukup mencolok ini, saya jadi mengerti akan satu hal. Ternyata jika syari'at (hukum) di dalam Islam itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari kita, maka tentu hal tersebut akan menambah keimanan serta rasa takut kita kepada Allah. Di samping itu, dari sini saya tahu mana panitia yang betul-betul serius ingin berdakwah dan mengajak pada kebaikan dan mana panitia yang hanya sekedar menjalankan kewajiban sebagai panitia pengawal acara saja. Bagaimana mungkin orang yang serius mengajak orang lain pada kebaikan, sementara dirinya malah mencontohkan sesuatu yang tidak baik?

Jika kebaikan adalah seperti makanan
Nikmat dan lezat dilihat dari tampilan
Mengundang selera dengan aroma yang dihasilkan
Apakah ia akan disantap atau hanya dibiarkan?

Sungguh, makanan yang lezat tidak akan bermanfaat
Tatkala kita hanya bisa berkomentar dan cuma melihat
Tak ada upaya untuk mencicipi juga usaha untuk menyantap
Bisakah ia mengenyangkan dan terasa nikmat?

Bersambung in syaa Allah

Next : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (2)

Minggu, 17 Juli 2016

Seri 2 : Ajakan Kebaikan

Di sekolah aku termasuk siswa yang aktif mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler, seperti OSIS dan Paskibraka. Belum lagi ada kegiatan tambahan dari bapak KaJur (Kepala Jurusan) di luar jam pelajaran yang lumayan padat, tak heran jika saat itu waktu di sekolah jauh lebih banyak ketimbang waktu bermain di rumah. Karena sekolahku memang unik, tak seperti sekolah lain pada umumnya, ada hikmah besar kenapa Allah pilihkan sekolah ini untukku (Soon : Pilih SMK atau SMA)

Di OSIS dan Paskibraka pun sebenarnya kegiatan kita cukup padat, terkadang kita studi banding ke sekolah-sekolah lain untuk saling tukar pengalaman kegiatan OSIS mereka, atau menghadiri undangan kegiatan dari OSIS sekolah lain yang rutin diadakan minimal sebulan sekali. Di Paskibraka sendiri, kita rutin refreshing ke alam (biasanya ke bumi perkemahan atau naik gunung) setiap sekali dalam sebulan. Sepekan sekali kita ada acara khusus silaturahmi ke rumah pengurus OSIS dan Paskibraka, kebetulan anak-anak Paskibraka saat itu mayoritas adalah "penguasa" di OSIS, hehehe.

Karena jadwal yang padat ditambah seringnya kita kumpul bareng, menjadikan kita saat itu sangat akrab sekali, bahkan melebihi akrabnya saudara kandung sendiri. Jika ada salah satu pengurus yang sakit atau kena musibah, maka pengurus yang lain pasti langsung bergerak untuk sekedar menghibur dan mengumpulkan dana bantuan jika memang diperlukan. Hal ini salah satu kenangan yang kurasa sulit dilupakan dari sekolahku saat itu, banyak teladan juga pelajaran positif yang bisa diambil sebagai bekal dalam bergaul juga berjamaah. Walau harus diakui, saat itu boleh dibilang mayoritas kita masih jahil, belum banyak yang faham apa itu khalwat, juga masih banyak yang senang dan happy ketika bermaksiat.

Suatu ketika, ketua OSIS kami ikut sebuah kegiatan yang diadakan oleh sebuah lembaga dakwah, namun saat itu ketua OSIS tidak mewakili sekolah atau OSIS, ia ikut atas nama pribadi katanya. Entah kenapa semenjak ikut acara tersebut, ada perubahan yang terjadi pada diri ketua OSIS, sebelumnya ia orangnya rame, sekarang jadi lebih banyak diemnya. Kalau ngomong juga gak banyak becandanya, malah terkesan lebih serius dari sebelumnya. Tentunya perubahan seperti ini di kalangan kami sangat mencolok dan menimbulkan banyak tanda tanya, apa yang terjadi sebenarnya?

Sampai suatu hari, ketua OSIS angkat bicara, ia mengatakan sepertinya OSIS kita perlu mengaktifkan kegiatan di Bidang Keagamaan, khususnya Kegiatan Agama Islam. Karena memang selama ini kegiatan agama Islam tergolong vacum, hanya saat hari-hari besar saja mulai aktif dan kelihatan nuansa keislamannya.

Saat itu ketua OSIS sudah menyiapkan beberapa draft kegiatan yang bisa dihandle oleh Bidang Keagamaan ini, salah satunya adalah Pesantren Kilat. Ketua OSIS juga mengusulkan bisa gak kira-kira sekolah kita membentuk Rohis (kerohanian Islam) yang nantinya bisa mengakomodir pengajian rutin pekanan di masjid sekolah. Tapi karena emang dasarnya mayoritas kita adalah orang yang masih ababil (baca: abege labil), tentunya usulan dan masukan dari ketua OSIS saat itu cuma ditanggapi dingin, malah terkesan gak didukung, termasuk aku yang saat itu dipercaya memegang juru kunci Bidang Keagaaman :D

"Untuk apa sih dibentuk rohis? Paling juga gak ada yang ikut nantinya. Trus biaya darimana untuk ngundang ustadz nanti?", aku mencoba mewakili isi hati juga keberatan sebagian besar anggota lain yang kelihatan kurang setuju dengan rencana ketua OSIS. Namun emang ketua OSIS ini cerdas dan pinter berargumen, ia mengatakan, "Daripada dana OSIS kita menguap dan gak kepake, bukankah sebaiknya dialihkan untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat?"

"Soal ustadz dan pematerinya, aku yang tanggung jawab terkait ongkos dan lain-lainnya", sambung ketua OSIS

Betul saja, semuanya terdiam gak bisa membantah argumen ketua saat itu. Apalagi ia membawa-bawa persoalan dana OSIS yang memang saat itu kami tahu betul berapa nomimal yang dianggarkan sekolah untuk kegiatan-kegiatan OSIS. Dan parahnya, jika OSIS minim kegiatannya, maka biasanya anggaran tersebut akan "disunat" oleh beberapa oknum pejabat di dalam komite sekolah, ini adalah rahasia umum yang sudah sama-sama diketahui oleh hampir seluruh pengurus OSIS yang aktif.

"Kalau kalian setuju, menjelang liburan semester nanti bakal ada acara Pesantren Kilat Akbar, dan sekolah kita ditunjuk oleh ketua panitianya sebagai tuan rumah"

"Maksudnya Akbar gimana?", tanya salah seorang pengurus yang dari tadi menyimak diskusi

"Maksudnya pesantren kilat ini pesertanya dari hampir seluruh sekolah-sekolah menengah di Sumut, kayak MAN Padang Sidempuan, MAN Sibolga, beberapa SMK dari Binjai, Langkat, Asahan dan tentunya dari Medan"

"Wooow... acaranya luar biasa kalo gitu ya pak ketua. Butuh biaya dan fasilitas yang banyak tuh berarti", aku mulai tertarik dengan acara ini

"Sebenarnya semua pendanaan dan penyediaan fasilitas, termasuk konsumsi, udah dihandle team kepanitiaan mereka. Kita cuma diminta menyediakan tempat untuk peserta putra dan putri, juga auditorium untuk acaranya nanti"

"Cuma itu doang?"

"Iya, gampang kan?"

"Kecil kali lah kalo cuma itu, nanti aku yang lobby pak Sembiring. Trus sekolah kita siapa yang mewakili?"

"Kayaknya ente wajib ikut, kan ente Kabid Keagamaannya, hahaha. Trus ente pilihlah 2 orang lagi anggota ente untuk ikut"

Sejenak kami saling melempar pandangan satu ke yang lain, terlihat jelas dari raut wajah dan bahasa tubuh yang tertangkap, tidak ada yang berminat ikut acara seperti ini. Entah apa alasannya, yang jelas dalam benakku pun pasti acara seperti ini akan membosankan, harus tidur larut malam alias begadang, dengerin ceramah setiap hari, dilarang ini itu dan kengerian lain yang membayangi di dalam kepala.

"Yaudah, daftarin namaku dulu. Ada syarat lain gak? Trus acaranya pastinya kapan?" akhirnya ku iyakan tawaran yang sedikit memaksa dari ketua OSIS. Masuk akal juga sih, masa KaBid Keagamaan malah gak ikut mewakili tuan rumah, ketua OSIS menang!

"Acaranya pekan depan, pas hari bagi rapot bro. Acaranya cuma 6 hari kok, gak nyampe sebulan, hahaha"

"Okelah, ada syarat lain yang harus dipenuhi atau dipersiapkan?"

"Gak ada kayaknya. Yaudah hari sabtu depan habis bagi rapot langsung kumpul di kantor ya, registrasi ulang", ketua OSIS pun mengakhiri diskusi hari itu.

AlhamduliLlah... Allah telah beri kesempatan
Untuk mengakhiri segala jerat dosa dan kemaksiatan
Yang mulai menumpuk dan hampir karatan
Bahkan banyaknya akan bertambah tak terelakkan
Jika tidak atas pertolongan Allah yang menyelamatkan.

AlhamduliLlah... Jalan ini memang tak terduga
Tiba-tiba terbentang untuk atas izin-Nya
Walau sempat ragu diri untuk menempuhnya
Karena takut bayangan dan nafsu semata
Namun akhirnya ia datang sebagai pembuka

AlhamduliLlah...
Pada akhirnya Pesantren Kilat Jalan Menuju Taubat
Walau datangnya agak sedikit terlambat
AlhamduliLlah, nafas belum tersendat
Ruh di tubuh juga masih menyemat.

Next : Hari Pertama Di Jalan Hijrah

Sabtu, 16 Juli 2016

Pesantren Kilat, Jalan Menuju Taubat

Saat itu sekolahku menjadi tuan rumah dari acara pesantren kilat akbar di kotaku, dikatakan akbar karena memang peserta yang ikut acara ini berasal hampir dari seluruh sekolah menengah, seperti MAN, SMK, dan SMA yang ada di kota Medan.

Walau peserta yang ikut tidak se-akbar nama acaranya, namun hampir seluruh sekolah menengah saat itu mengirimkan utusannya untuk mengikuti acara Pesantren Kilat Akbar se-Kota Medan ini, dan akupun diutus untuk mewakili sekolahku. (Ada kisah unik dan lucu saat saya ditawari untuk ikut acara pesantren kilat ini, mudah-mudahan nanti bisa ditulis sambil dikumpulin lagi potongan-potongan memori yang mulai terlupa, hehe)

Pesantren kilat ini dilaksanakan selama 6 hari, dimana setiap harinya peserta diberikan materi-materi dasar dalam ilmu Islam, seperti Hakikat dan Tujuan Dasar Penciptaan Manusia, Modal Untuk Beribadah, Pentingnya Mempelajari Syahadat, Konsekuensi serta Pembatal Syahadat, Dasar Ushul Tsalaatsan, Ma'rifatuLlah, Ma'rifaturrasul, Ma'rifatuddien dan materi-materi lain yang bagiku merupakan pengalaman serta ilmu baru yang belum pernah kudapat baik di sekolah maupun buku-buku agama yang kumiliki, prihatin.

Hari demi hari kulewati dengan banyak sekali air mata yang tertumpah, betapa tidak, ternyata selama ini aku bagai zombie (mayat hidup) yang berjalan kesana kemari tak jelas apa yang dituju dan apa yang dicari. Hampir seluruh waktu kuhabiskan hanya untuk memuaskan nafsu yang tiada ujung dan pangkalnya untuk diikuti, seolah meminum air laut yang sangat asin rasanya, niat hati ingin menghilangkan dahaga dengan meminumnya, namun malah semakin diminum semakin bertambah haus dan penasarannya, setidaknya begitulah selama ini yang kurasakan dalam hidup ini.

Raga rasa haus yang sangat
Namun hanya ada air laut yang terdekat
Diri coba minum agar terasa nikmat
Harapan agar dahaga hilang terbabat
Ternyata hanya nikmat sesaat
Setelahnya tenggorokan pun rasa tercekat

Puncaknya, diriku mulai tumbang dalam hempasan penyesalan dan ketakutan yang membayangi saat memasuki hari terakhir acara pesantren kilat ini. Terbayang banyaknya investasi dosa yang sudah dikerjakan, juga episode kelam yang terlanjur mengisi drama kehidupan.

Dengan azzam dan tekad yang sudah kubulatkan, aku berjanji kepada Allah ﷻ dan diri ini untuk sesegera mungkin berubah dan bertaubat serta kembali ke dalam dekapan Islam yang menentramkan. Salah satu momen yang mempengaruhiku saat itu adalah sebuah renungan yang disampaikan oleh seorang Ustadz pembimbing pada acara pesantren kilat tersebut.

Ustadz menyampaikan sebuah renungan yang sangat mendalam serta menusuk-nusuk dada ini, seolah renungan tersebut bak pisau tajam yang tepat ditancapkan ke dadaku. Lalu karena ketajamannya, pisau itu mampu menembus kulit dan terus masuk ke dalam jantungku, dalam dan sangat mematikan sehingga aku pun tak berdaya dan terkulai lemas dibuatnya. Tikaman tajam tersebut mampu membangunkan aku dari kelalaian serta "tidur" panjangku, ia juga mampu menghancurkan tembok-tembok hedonisme yang berdiri kokoh di dalam hidupku, alhamduliLlah...

Pada saat itu, Ustadz (semoga Allah senantiasa menjaga dan membalas setiap kebaikannya) mengangkat satu ayat di dalam Al Quran, yaitu ayat ke-179 di dalam surah Al A'raf, dimana Allah berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf : 179)

Allah Akbaar... setiap kali membaca ayat ini, serasa diri ini masih merasakan getaran dari ayat ini saat pertama kali mendapatkan penjelasannya.

Di antara yang disampaikan Ustadz sehingga mampu menyadarkan aku saat itu adalah, orang-orang yang tidak pernah mau menggunakan matanya untuk melihat dan membaca ayat-ayat Allah (baik yang tersirat di dalam Al Quran atau yang tersurat di alam sekitar), orang yang tidak mau menggunakan telinganya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Allah atau mendengarkan majelis/halaqah yang membahas ayat-ayat Allah, serta orang yang punya hati namun hatinya senantiasa lalai dari berdzikir kepada Allah, akan mendapatkan siksaan dan kerugian yang berat dan besar, baik di dunia maupun di akhirat.

Kemudian Ustadz melanjutkan, siksaan di dunia berupa derajat serta tingkah laku (akhlak) yang tak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih sesat dan lebih hina lagi. Dan nanti di akhirat (jika tidak mau bertaubat) akan dicampakkan ke dalam Neraka Jahannam yang merupakan dasar serta tempat dimana api-api yang berada pada neraka lainnya dinyalakan. Ngeri rasanya saat membaca dan membayangkan bagaimana kengerian yang disajikan di dalam neraka Jahannam ini. Padahal kita tahu bahwa api neraka pada tingkat yang paling ringan saja, yang mana apinya "cuma" setinggi mata kaki kita, sudah mampu meledakkan dan menghancurkan isi kepala kita, apatah lagi dengan Jahannam ini, yang mana ia merupakan tingkatan neraka yang paling berat siksaannya serta paling dalam dan besar kobaran apinya, wal iyadzu biLlah...

Kontan penjelasan dari Ustadz membuat hampir seluruh peserta pesantren kilat menangis dan bergidik ngeri, pun termasuk aku. Aku yang dikenal teman-teman suka tertawa dan rame, saat itu hanya mampu menangis, shock dan ketakutan dengan rasa takut yang sangat. Betapa memang selama ini aku hampir tidak pernah membaca Al Quran (apalagi menghafalnya), menghadiri majelis ilmu serta berdzikir, lalu bagaimana nasibku jika aku mati saat dalam keadaan seperti itu? Allahu Akbaar... segala puji bagi Allah yang masih memberi kesempatan kepadaku untuk bisa hidup dan belajar serta memperbaiki diri hingga saat ini, alhamduliLlah...

Maka mulai saat itu, aku putuskan aku harus berubah dan bertaubat kepada Allah atas dosa dan kesalahan yang selama ini telah aku lakukan dalam hidupku.

Setelah acara tersebut, aku pun mulai aktif mengikuti majelis-majelis ilmu serta perlahan-lahan mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jelek yang sudah menjadi program harianku selama ini. Termasuk semua koleksi kaset dan CD yang kumiliki, serta gitar dan berbagai pernik aksesoris kejahiliyahanpun aku buang dan sebagiannya aku hancurkan, karena aku khawatir hal tersebut akan menarik perhatianku lagi untuk kembali menyenanginya.

Rabu, 29 Juni 2016

Ada Apa Dengan Bus?

Jika antum sedang berada di atas sebuah bus, lalu kemudian tanpa sepengetahuan dan izin dari kita, bus tersebut melewati jalan yang berliku, atau jalan yang banyak lubangnya, atau jalan yang penuh dengan kemacetan sehingga menyebabkan kita jenuh, dongkol, capek, kesal, sedih dan perasaan-perasaan yang semisal dengannya, apa yang antum lakukan saat itu?

"Mau gak mau ya harus sabaar duduk di dalam bis dong"

Betul sekali...

Kita tidak mungkin memprotes supir karena hal tersebut kan?

"Oy pak supir, kenapa sih harus lewat jalan ini?"

"Plis deh pak supir, emang gak ada alternatif rute yang lain apa?"

NO... saya rasa tidak mungkin hal ini terjadi. Karena kita mesti percaya sepenuhnya kepada pak supir, kita yakin bahwa pasti pak supir sudah berpengalaman, juga sudah memperhitungkan dengan baik rute yang akan ditempuhnya tersebut, sedangkan kita selaku penumpang, harus pasrah dan percaya sepenuhnya bahwa kita pasti akan dibawa sampai ke tujuan kita, deal ya?

Sekarang coba lihat diri kita guys, coba bayangkan jika saja hidup kita saat ini selayaknya perjalanan menggunakan bus tersebut, Allah ﷻ adalah "supirnya", sedang kita adalah penumpangnya.

Sebagai penumpang, tentu kita ingin agar bus yang kita tumpangi segera sampai ke tujuan kan, kita ingin agar di perjalanan ini semuanya nyaman, aman juga tidak ada hambatan dan halangan. Bener banget, semua pasti menginginkan hal tersebut.

Lalu bagaimana jika ternyata kenyataan yang kita hadapi tidak seperti ingin dan harapan kita? Apa yang akan kita lakukan? Sudah terjawab!!!

Kita harus yakin dan percaya sepenuhnya kepada Sang "Supir", yakni Allah ﷻ. Dia adalah dzat yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Dia juga dzat yang paling faham bagaimana rute yang harus kita lewati agar kita cepat sampai ke tujuan kita.

Walau terkadang rute tersebut banyak lubang-lubangnya, penuh lika liku, bahkan harus disertai isak tangis, emosi, juga kejenuhan yang luar biasa dahsyatnya. Kita TIDAK BOLEH PROTES apalagi berputus asa!!!

Percayakan sepenuhnya rute kehidupan kita kepada-Nya, lalu berbaik sangkalah kepada-Nya atas setiap rasa dan asa yang hadir di tengah perjalanan ini. Dan yakinlah, tidak akan datang setelah semua yang kita alami dalam perjalanan ini kecuali SAMPAINYA KITA PADA TUJUAN DENGAN SELAMAT...

BaarakaLlahu fiikum...

Semoga bermanfaat

�� Satria Ibnu Abiy

Popular Posts

Supported By:

Supported By:
warungkoski.com
Diberdayakan oleh Blogger.