Minggu, 14 Juni 2015

Istighfar


Sesungguhnya ada 2 tempat di muka bumi ini yang AMAN dari (tertimpa) adzab Allah ﷻ.

Tempat pertama telah berlalu, tinggal tempat yang kedua

Adapun tempat yang pertama adalah, tempat dimana ada RasuluLlah ﷺ di dalamnya.

Sebagaimana firman Allah ﷻ,

"Dan Allah ﷻ tidak akan menurunkan adzab-Nya, sedangkan engkau (wahai Muhammad) ada bersama mereka"

Adapun tempat yang kedua adalah, (tempat yang banyak diucapkan kalimat) istighfar...

Sebagaimana firman Allah ﷻ,

"Dan Allah ﷻ tidak akan mengadzab mereka, sedangkan mereka termasuk orang yang banyak beristighfar"

Dan juga firman Allah ﷻ,

Nuh berkata kepada kaumnya, "Beristighfarlah kamu semua kepada Allah ﷻ Rabb kalian, sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun"

Maka dari itu (wahai sahabat ILUFiL), janganlah kalian tinggalkan istighfar untuk selama-lamanya...

AstaghfiruLlah...

AstaghfiruLlah...

AstaghfiruLlah...

Jangan lupa, kamu akan mendapat pahala yang sama dengan orang yang beristighfar dikarenakan kamu telah mengingatkan mereka (dengan pesan ini)

GhofaruLlahu lanaa wa laka

Semoga Allah ﷻ mengampuni kita semua dan kamu sekalian...

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun" (QS. Al-Anfal : 33)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

"maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun" (QS. Nuh : 10)


Akhukum FiLlah...

Satria

Jumat, 12 Juni 2015

Akhir Hidup Seorang Hafizh


Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi’in (270 H) yang HAFAL AL QURAN.

Namanya adalah sebaik-baik nama, ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID nan NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya…???

Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA. Ayat apakah itu?? Apakah penyebabnya..??

Inilah kisahnya :
Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi. Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.

Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI, tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.

Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba-tiba mata ‘Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.
Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:

“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.”
Syahwat telah memenuhi relung hati ‘Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Quran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad.
Menikahlah dia di dalam benteng. Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan Allah dan menjadi hamba salib?
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa. Ketika ditanyakan kepadanya, “Dimana Al Quran mu yang dulu???”
Ia menjawab, “Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”
(QS. Al Hijr: 2-3)

Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya, kutukan sekaligus peringatan Allah yang terakhir namun tak digubrisnya. Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati. Mati dalam keadaan MURTAD.

Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lagi hamba yang banyak cacat ini. Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk di akhir hayat.
Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita.” (muttafaq ‘alaih).

Amalan Kebanggaan Suami


Amal yang Paling Kuharapkan Pahalanya
“Famâ syai’un arjâ ‘indî min hifzhî ‘alaihâ mâ kâna fî qalbihâ min jihatî.” Abu Utsman.

Dalam hidup berumah tangga, kira-kira amal apakah yang paling diharapkan pahalanya? Bagi seorang istri, tentu jawabannya adalah baktinya kepada suami dan upayanya untuk meminta keridhaan suami –setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena suami menjadi pintu surga baginya. Dan bagi suami? Pertanyaan ini pernah ditanyakan kepada Abu Utsman, lalu ia menjawab bahwa amal yang paling ia harapkan pahalanya ialah kesabarannya selama 15 tahun dalam menjaga perasaan istrinya, agar tidak tersakiti. Karena di sebagian waktunya, Abu Utsman hidup bersandingkan istrinya ini ibarat hidup di atas bara, karena istrinya buta, pincang dan buruk rupa.

Kisah suami istri ini disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Shifatush Shafwah (4/104), Ibnu Khalkan dalam Wafiyâtul A’yân (2/370) dan Ibnu Katsir dalam Al-Bidâyah wan Nihâyah (11/130). Berikut ini adalah kisah Abu Utsman:

Muhammad bin Nu’aim Adh-Dhibbi, ia berkata, “Aku pernah mendengar ibuku bercerita, ‘Aku mendengar Maryam, istri Abu Utsman –yang lain- berkata, ‘Secara kebetulan, aku bisa bertemu dengan Abu Utsman yang sedang sendirian, lalu aku mengambil kesempatan itu untuk bertanya, “Yâ Abâ Utsmân, ayyu ‘amalika arjâ ‘indaka..., wahai Abu Utsman, amalan apakah yang paling kamu harapkan pahalanya di sisimu?”

Abu Utsman menjawab, “Wahai Maryam, ketika sudah dewasa, aku berada di daerah ray, penduduk di sana menginginkan agar aku menikah, tetapi aku menolak pinta mereka. Lalu ada seorang perempuan yang datang dan berkata, “Duhai Abu Utsman, sungguh aku mencintamu sebenar cinta hingga cintaku melenyapkan tidur dan ketenanganku. Aku memohon kepadamu dengan Dzat yang Maha membolak-balikkan hati, dan aku meletakkan kepercayaan kepadamu dengan nama-Nya agar kamu bersedia menikahiku.”

Lalu aku bertanya, “Apakah kamu punya ayah?”

“Ya, namanya fulan, seorang tukang jahit di tempat ini dan ini.”

Kemudian dia berkirim surat kepada ayahnya untuk menikahkan dirinya denganku. Ayahnya bahagia dengan rencana pernikahan tersebut, dan beberapa saksi didatangkan, lalu aku menikahinya.

Ketika aku pergi menemuinya, ternyata wanita tersebut buta, pincang dan buruk rupa.
Lalu aku berkata, “Allâhumma lakal hamdu ‘alâ mâ qaddartahu lî..., ya Allah segala puji bagi-Mu atas apa yang Engkau takdirkan untukku.”

Setelah itu, keluargaku mencela dan menyalah-nyalahkanku. Tetapi aku tetap bertambah baik dan memuliakannya, hingga sampai tahap dia tidak membiarkanku keluar dari sisinya. Sehingga aku meninggalkan berbagai majlis ilmu, karena lebih mengutamakan keridhaannya dan menjaga perasaannya. Aku hidup dalam kondisi seperti itu selama 15 tahun lamanya. Di sebagian waktuku, aku serasa hidup berada di atas bara. Namun sama sekali aku tidak menampakkan raut wajah tidak suka kepadanya, sampai dia meninggal dunia.”

Kemudian Abu Utsman melanjutkan, “Famâ syai’un arjâ ‘indî min hifzhî ‘alaihâ mâ kâna fî qalbihâ min jihatî...., tidak ada amalan yang lebih aku harapkan pahalanya selain aku menjaga perasaannya.”

Subhanallah !  semoga Abu Utsman mendapatkan limpahan pahala atas kesabarannya dalam menjaga perasaan istrinya.

Selasa, 09 Juni 2015

Inna Ma'al 'Usri Yusron




Ini adalah sebagian dari ayat-ayat pendek namun memiliki makna yang sangat besar.

  • Di dalamnya tersirat kabar gembira bagi seorang mu'min, obat bagi hati yang perih, penawar bagi jiwa yang letih, penyembuh bagi diri yang mulai tertatih.
Para ahli tafsir menjelaskan tentang tafsir 2 ayat ini sbb,

  • Allah menggunakan kata "ma'a / bersama" sebelum kata "usri" & "yusro" bukan kata "ba'da / setelah", apa maksudnya?
Kata "ba'da" dipakai jika sesuatu tersebut telah selesai. Sedang "ma'a" dipakai untuk dua hal yang datang berbarengan.
Allah ﷻ menggunakan kata "ma'a" bukan "ba'da", artinya setiap Allah ﷻ memberi kesulitan PASTI bersamanya ada KEMUDAHAN.

  • Kata "al 'usri (dgn alif lam)" dan "yusro (tanpa alif lam) apa maksudnya?
Dalam bhs Arab, semua kata yg memakai alif lam disebut ma'rifah, yaitu memiliki makna satu dan khusus. Sedangkan jika tidak memakai alif lam disebut nakiroh, artinya banyak, luas dan umum.
Allah ﷻ memilih kata "al 'usri" & "yusro" yang diulang 2 kali artinya, setiap Allah menurunkan 1 KESULITAN maka PASTI bersamanya ada 2 atau lebih (banyak & tak terhingga) KEMUDAHAN.
ﻣَﺎﺷَﺂﺀَﺍﻟﻠّﻪُ ....

Lalu adakah alasan untuk berputus asa?
Adakah alasan untuk letih dan sedih?
Adakah alasan untuk galau dan kacau?

Jika Allah memberimu kesulitan bertemu jodoh atau rumah tanggamu tidak harmonis, istrimu tidak menarik hatimu, maka PASTI ada kemudahan-kemudahan lain yg diturunkan bersamanya.

Jika Allah memberimu kesulitan pekerjaan, study yg tersendat, rezeki yg ngadat. Maka coba ingatlah PASTI ada kemudahan-kemudahan lain yg diturunkan bersamanya.

Ingat kuncinya :

"bersama 1 KESULITAN, PASTI ada BANYAK KEMUDAHAN menyertainya"

Jika 2 ayat ini saja bisa menyembuhkanmu, maka saya katakan kepadamu, di dalam Al Quran itu terdapat lebih dari 6000 ayat

و الله اعلم
〰〰〰〰〰
@sat-AHQ

TJS #01



Assalamualaikum ustadz,,bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan RasulNya di dalam hati?

Jawab :

1. Perbanyak ilmu syar'i, trutama Ushul Tsalaatsah,

2. Perbanyak berdoa & bertawakkal kpd Allah ﷻ, smakin bnyk qt berdoa & bertawakkal, maka smakin rasa cinta qt kpd Allah ﷻ semakin besar,

3. Laksanakan segala perintah Allah ﷻ dan menjauhi segala larangan-Nya semampu yg qt bisa,

4. Menjalankan serta mencintai sunnah-sunnah RasuluLlah ﷺ,

5. Mencintai dan berjama'ah dgn org2 yg juga cinta kpd Allah ﷻ dan Rasul-Nya...

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

===========

Assalamu'alaikum ustadz/ah,ana mau tny bagaimana cara yg baik utk mengajak anak2 mau melakukan shalat 5 wkt,anak sy berkebutuhan khusus umur 8th, kalo disuruh shalat sgt susah, sgt keras hatinya, apakah ada do'a khususnya jg...?

Jawab : 

Langkah awal yg harus ditempuh adalah memberikan contoh terbaik kpd anak kita.

Lakukanlah sholat dengan tepat waktu, tunjukkan kpd anak kita bahwa dengan sholat maka hati kita akan tenang, perangai buruk juga akan berkurang serta diri menjadi lebih tenang & tidak mudah bimbang.

Tunjukkanlah hal ini kpd anak kita, karena dakwah bil hal, dakwah dengan memberikan contoh, terkadang jauh lbh efektif ketimbang dakwah dengan paksaan...

Untuk doa, cobalah senantiasa dipanjatkan doa yang dahulu juga dipanjatkan oleh NabiyuLlah Ibrahim 'alayhissalam...

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (QS. Ibrahim : 40)

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب


===========

26. Bgmn muroja'ah hafalan ayat2 Qur'an sambil aktivitas spt masak,  naik motor,  jl dll juga dzikir lisan sambil aktivitas... شكرا

Jawab : 

Untuk muroja'ah hafalan, sebaiknya disediakan waktu dan tempat yg khusus, diutamakan yg jauh dr keramaian, agar konsentrasi benar2 bs fokus dan terpusat.

Adapun jika seandainya tidak memungkinkan, maka boleh jg disambi dgn mengerjakan hal2 lain, dengan catatan tdk merusak satu pekerjaan dengan pekerjaan lainnya.

Misalnya, jika disambi masak, jangan sampai malah bumbu utk masaknya jadi berantakan krn tidak bs fokus dgn memasajknya. Pun ketika berkendaraan dan lain sebagainya...

Jika mampu fokus di dua kegiatan sekaligus (muroja'ah sambil masak atau yg lainnya), maka cara muroja'ah yg bs dilakukan adlah dgn :

1. Meletakkan lembaran ayat atau surah yg ingin di muroja'ah di tempat yg bs dilihat oleh mata kita.

2. Atau bisa juga dgn menyetel berulang-ulang mp3 murottal ayat atau surah yg sdg ingin dimuroja'ah. Saran sy, pakai mp3 Syaikh Mathrood yg memang cocok utk muroja'ah.

3. Jika memungkinkan, suruh org mendampingi kita utk mengecek muroja'ah kita tersebut.

Demikian semoga bermanfa'at...

Selamat mencoba...

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

===========

41. Assalamualaikum ustadz,,bagaimana cara menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan RasulNya di dalam hati?

Jawab : 

1. Perbanyak ilmu syar'i, trutama Ushul Tsalaatsah,

2. Perbanyak berdoa & bertawakkal kpd Allah ﷻ, smakin bnyk qt berdoa & bertawakkal, maka smakin rasa cinta qt kpd Allah ﷻ semakin besar,

3. Laksanakan segala perintah Allah ﷻ dan menjauhi segala larangan-Nya semampu yg qt bisa,

4. Menjalankan serta mencintai sunnah-sunnah RasuluLlah ﷺ,

5. Mencintai dan berjama'ah dgn org2 yg juga cinta kpd Allah ﷻ dan Rasul-Nya...

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

Minggu, 07 Juni 2015

CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN

CARA MUDAH MENGHAFAL AL QUR’AN

Ditulis oleh Syeikh Abdul Muhsin Al-Qasim.
(Beliau adalah Imam dan Khatib di Masjid Nabawi).

Semoga Artikel kali ini bermanfaat dan dapat menambah semangat kaum Muslimin untuk dapat menyelesaikan hafalan Al Qur’an yang mulia. Selamat mencoba. [admin]

Berikut adalah metode untuk menghafal Al Quran yang memiliki keistimewaan berupa kuatnya hafalan dan cepatnya proses penghafalan. Kami akan jelaskan metode ini dengan membawa contoh satu halaman dari surat Al-Jumu’ah :

1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.

2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.

3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.

4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali .

5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.

7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.

8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.

9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.

10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut

11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini

Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.


A. Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?

Janganlah anda menghafal Al Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika anda terus menerus menambah hafalan Al Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian anda ingin untuk mengulang kembali hafalan anda dari awal maka hal itu akan berat dan anda dapati diri anda telah melupakan hafalan yang lalu.

Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.

1. Bagilah Al Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz.

2. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz.

3. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.

4. Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari.

5. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz.

6. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz.

7. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.

8. Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.

9. Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz.

10. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama.

11. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.


B. Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?

1. Mulailah dengan memuraja’ah Al Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz.

2. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali.

3. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –in syaa Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.


C. Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al Qur’an dalam satu tahun?

1. Setelah setahun mengokohkan hafalan Al Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana RasuluLlah  menjadikannya sebagai wirid harian.

Adalah wirid RasuluLlah dengan membagi Al Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al Qur’an dapat dikhatamkan.

Berkata Aus bin Hudzaifah : Aku bertanya pada sahabat-sahabat RasuluLlah tentang bagaimana mereka membagi Al Qur’an (untuk wirid harian).

Mereka berkata : 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad).

Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:

A. Hari pertama : membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
B. Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
C. Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
D. Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
E. Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
F. Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
G. Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.

Wirid Rasulullah disingkat oleh para ulama dengan perkataan :

فمي بشوق (famii bisyauqi)

Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.


D. Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al Qur’an?

Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan di antara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu.

Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.


E. Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al Qur’an

o Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/Syeikh untuk membenarkan bacaan anda

o Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan di atas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..

o Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al Baqarah sampai An Naas

o Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al Qur’an.

o Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya.

Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan).

Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit.

Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al Qur’an.

Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.👍


Sabtu, 06 Juni 2015

'Aalim kah kita?


Siapakah yang disebut 'aalim (orang yang berilmu) ?

Berkata Sufyan bin Uyaynah rahimahuLlah : "Orang berilmu bukanlah mereka yang hanya mengenal kebaikan dan keburukan saja. Akan tetapi orang yang berilmu adalah mereka yang mengenal kebaikan kemudian mereka mengikutinya (mengamalkannya), dan mereka juga yang mengenal keburukan kemudian mereka menjauhinya."

Dan berkata Hasan Al Bashri rahimahuLlah : "(Orang yang 'alim bukanlah) mereka yang mengungguli manusia dengan ilmu, (akan tetapi seorang yang) layak (disebut 'alim) adalah mereka yang mengungguli manusia dengan amalnya."

Dan Hasan Al Bashri juga berkata : "Seseorang (rajin dan banyak) mempelajari ilmu, namun (kita tidak melihat ilmu tersebut) menghiasi kekhusyu'annya, hidayahnya, lisan, penglihatan dan tangannya."

Berkata Abu Haatim rahimahuLlah : "Seorang 'aalim tidak dikatakan 'aalim, sampai ia memiliki 3 hal berikut :
1. Ia tidak merendahkan siapa yang berada di bawahnya,
2. Ia tidak hasad (iri) siapa yang berada di atasnya,
3. Dan ia tidak mengambil dunia dengan (menjual) amalannya.


Siapakah orang yang faqih (orang yang faham agama) ?

Berkata Hasan Al Bashri rahimahuLlah : "Orang yang faqih adalah mereka yang zuhud* terhadap dunia, sangat mencintai akhirat, melihat** dosa-dosanya, dan merutinkan (istiqomah) dalam beribadah kepada Allah."

*Zuhud adalah sikap yang tidak peduli terhadap dunia, ada atau tidak ada dunia di genggamannya, sama saja baginya.

**Melihat dosa maksudnya adalah senantiasa memperhatikan dan segera respek terhadap dosa yang telah atau baru saja dilakukannya, sehingga ia bersegera bertaubat kepada Allah.

(Disadur dari kitab Kayfa Nartaqy fii Manaazilis Saa-iriina illa Allah, hal. 50)

By: Satria


Popular Posts

Supported By:

Supported By:
warungkoski.com
Diberdayakan oleh Blogger.