Selasa, 19 Juli 2016

Seri 4 : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (2)

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu." (QS. Fussilat : 30)

***

"Sesungguhnya seluruh anak keturunan Adam itu pasti dan mesti pernah berbuat salah dan dosa", nasehat terakhir Ustadz Ahmad pada malam terakhir pesantren kilat itu.

Beliau melanjutkan, "Dan sebaik-baik orang yang pernah tergelincir dalam khilaf dan dosa, adalah mereka yang dengan segera bertaubat kepada Allah"

"Apakah Allah akan mengampuni dosa yang banyak banget pak ustadz?", pertanyaan Jundi ini memecah keheningan di dalam ruangan saat itu

"Jangankan Jundi, sahabat Nabi saja pernah berbuat dosa, mereka juga pernah melakukan kesalahan. Padahal mereka hidup pada zaman dimana Nabi masih hidup, masih sering kasih nasehat kepada mereka. Sebagian dari mereka masih ada yang suka minum-minuman keras, ada juga yang suka berzina, berjudi, serta dosa-dosa lainnya."

"Para sahabat Nabi ada yang suka main musik juga gak Ustadz?"

"Orang Arab itu mayoritas menyukai syair, dan biasanya syair-syair tersebut selalu diiringi dengan musik-musik. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan mabuk-mabukan dan mengundang penari-penari wanita yang bisa menghibur mereka"

"Berarti gak jauh beda dengan kita disini ya Ustadz?", saya pun penasaran dan ikut memberikan pertanyaan

"Iya betul, selama ia masih berpredikat sebagai manusia dan anak keturunan Nabi Adam, maka pasti ia tidak akan pernah lepas dari jerat dan perangkap dosa dan khilaf. Oleh sebab itu, jadilah kalian sebagai orang-orang yang terbaik!"

"Dengan cara segera bertaubat dari dosa yang pernah kita lakukan ya Ustadz?"

"Betul... segeralah bertaubat, sesali dan jangan ulangi lagi dosa-dosa yang sudah terlanjur kita kerjakan itu. Mudah-mudahan Allah terima taubat kita dan senantiasa memberikan hidayah agar kita tidak mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada-Nya"

Deg...

Kalimat terakhir Ustadz Ahmad serasa mengiang-ngiang di dalam telinga dan pikiranku saat itu.

"...agar kita tidak mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada-Nya"

Ah... tak terasa ada lelehan air hangat yang tiba-tiba membasahi wajahku, buru-buru kuseka air tersebut agar tidak terlihat kawan-kawan yang lain. Entah kenapa semenjak ikut pesantren kilat ini rasanya saya berubah menjadi laki-laki tercengeng di seantero kota Medan saat itu, dikit-dikit nangis, dikit-dikit nangis, nangis kok dikit-dikit, gubrak...

Tak terasa hari itu adalah hari terakhir kebersamaan kami. Pertemuan yang berkesan ini pun harus diakhiri dengan yang namanya perpisahan, sedih. Sebelum berpisah, Ustadz Ahmad sempat memberikan nasehat kepada kami semua, para peserta pesantren kilat akbar,

"Kalian sudah mengenal Allah, maka takutlah kepada-Nya saat kalian tergoda ingin melakukan kemaksiatan. Kalian juga sudah faham bagaimana dahsyat dan ngerinya siksaan di dalam neraka, maka jauhilah segala perbuatan dan dosa yang bisa memasukkan kalian ke dalamnya. Segeralah bertaubat kepada Allah, mumpung badan masih sehat, jangan tunda-tunda lagi. Lalu istiqomahlah untuk selalu beribadah kepada Allah, walau dengan amalan-amalan yang kecil!!!"

"In syaa Allah Ustadzzzz...", kami semua hampir serempak menjawabnya

***

Siang itu saya kembali ke kosan dengan langkah yang sedikit gontai, langkah yang berjalan di atas tanah, namun perasaan dan pikiran terbang jauh meninggalkannya. Bumi yang kupijak saat itu terasa lebih lebar dari biasanya, ataukah jiwaku yang selama ini berlaku sombong telah mengkerdilkannya?
Ah... ada gejolak yang kurasa

Jarak sekolah ke kosan tidak begitu jauh, kurang lebih hanya 100 meter. Oh iya, karena memang rumahku cukup jauh dari sekolah, maka dari awal saat diterima di sekolah ini, aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar kos yang dekat dengan sekolah. Untuk membayar uang sewa tersebut, saya nyambi bantu-bantu tetangga kosan yang punya usaha rental komputer. Dan alhamduliLlah gaji pokoknya saja cukup untuk membayar uang sewa kos saat itu, sedang untuk biaya makan sehari-hari, saya dapat dari sisa uang beasiswa, dana supersemar dan BKM (Bantuan Khusus Murid) yang diberikan sekolah, alhamduliLlah... Itupun masih ada tambahan dari hasil "ngamen" di cafe atau undangan event hiburan yang lumayan untuk ukuran anak SMK saat itu.

Sesampainya di kosan, sejenak kuperhatikan keadaan kamar yang terasa asing untuk sesaat. Terlihat poster besar Curt Cobain terpampang di tembok dekat kasur. Di kamarku emang banyak terpampang poster-poster musisi dan atlet, seperti Green Day, Linkin Park, Ronaldo, Totti, Batistuta, banyak dan hampir memenuhi tembok. Ada perasaan yang beda saat saya duduk memandangi semua poster yang terpampang.

Di kasur terlihat sebuah gitar tergeletak dengan rapi, gitar Yamaha berwarna biru muda itu adalah teman terakrab di saat saya merasa sepi. Biasanya saat seperti ini adalah waktu yang pas untuk bermain gitar, tapi entah kenapa saat itu ada perasaan aneh saat tanganku memegang dan coba memainkannya.

Malam itu, rasanya saya hanya ingin di kamar, menikmati perasaan baru ini, sambil mendengarkan musik! Ya, inilah satu kebiasaanku yang aneh mungkin, gak bisa tidur kalau gak denger musik, hehehe. Namun perasaan ini masih berasa getarannya, perasaan yang mendorong untuk terus menjadi pribadi baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Kita memang tak bisa merubah masa lalu
Yang mungkin dipenuhi dengan cerita penuh sembilu
Banyak kenangan yang terkadang membuat ngilu
Apalagi sampai diketahui orang lain, tentu sangat malu.

Siapa yang tak pernah salah?
Siapa yang tak bisa khilaf?

Semua orang pasti pernah berbuat keliru
Aku, dia, mereka juga kamu
Maka jangan berhenti berharap karena masa lalu
Mari kita terus perbaiki diri dan bergerak maju
Segera bertaubat juga perbanyak amalanmu
Untuk menutupi dan memperbaiki dosa-dosa itu
Jangan putus asa karena Allah Maha Tahu
Allah juga akan menerima taubatmu, maka jangan RAGU!!!

Bersambung in syaa Allah

Next : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (3)

Senin, 18 Juli 2016

Seri 3 : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (1)

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran : 104)

***

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ikut acara pesantren kilat seperti ini. Waktu masih SMP dulu malah hampir setiap tahun ada acara pesantren kilat di sekolah, dan semua siswa yang beragama Islam diwajibkan untuk ikut. Tahun kemaren juga sebenarnya saya ikut pesantren kilat yang diadakan oleh Ikatan Remaja Masjid Nurul Islam (IRMANURI) di deket kosan, tepatnya di jalan Letda Sujono. Bahkan saat itupun saya dinobatkan sebagai peserta lelaki terbaik, bukan sombong sih, cuma pamer, piss :D

Namun apa yang membedakan pesantren kilat ini dengan pesantren kilat lain yang pernah saya ikuti sebelumnya? Selain faktor hidayah yang Allah berikan, saya rasa ada 2 faktor yang menjadikan nilai plus pada pesantren kilat ini.

1. Dari Sisi Materi Yang Disajikan.

Pada pesantren kilat sebelum-sebelumnya, materi yang disajikan tidak runut dan sistematis, malah terkesan "yang penting ada materi keislaman". Sedangkan pada pesantren kilat akbar ini, materi yang disajikan sangat sistematis dan bisa menggiring pola pikir pesertanya untuk ikut meresapi setiap ibroh dan maksud dari isi materi.

Seperti misalnya materi awal yang diberikan, yakni Ta'riful Insan (Mengenal Hakekat Manusia), dimana saat itu ustadz menjelaskan tentang proses terciptanya seorang manusia, mulai dari pembentukan janin hingga dilahirkan. Saat itu ustadz mengatakan, "Dalam proses pembuahan saja, Allah sengaja memilih benih (sel sperma) yang mengangkut antum (kalian) di dalamnya, sehingga benih tersebut bisa berhasil bertemu dengan sel telur ibu antum. Padahal benih yang berusaha bertahan dan ingin berhasil menjumpai sel telur itu banyak jumlahnya, bahkan sampai hitungan jutaan benih. Namun sekali lagi, Allah memilih antum dan mentakdirkan benih lainnya mati dan gagal. Lalu mengapa ketika lahir dan sudah dewasa antum malah sombong dan ingkar kepada Allah? Padahal Dia-lah yang telah menolong antum semenjak antum masih berbentuk benih?"

Menerima pertanyaan cerdas dan masuk akal seperti ini membuat saya terdiam dan merenung, rasanya emang bener jika saya ini adalah orang yang sombong kepada Allah. Sudah belasan tahun saya hidup di dunia, menerima berbagai nikmat dari-Nya secara percuma (gratis), namun masih juga malas dan tidak mau beribadah kepada-Nya, memalukan!

Ini adalah malam pertama dimana saya menangis saat sholat. Pertanyaan tadi bagi saya seperti layaknya sebuah dentuman bom yang dahsyat, sehingga mampu membangunkan kesadaran saya yang mungkin sudah lama tertidur pulas dibuai oleh semunya bayangan mimpi yang terlihat indah.

Setelah menerima materi Ta'riful Insan ini, lalu keesokan harinya kami diberikan materi Ma'rifatuLlah, yakni materi yang menjelaskan tentang bagaimana caranya kita bisa berkenalan dengan Allah. Materi ini pun lagi-lagi bisa berhasil mempengaruhiku, dimana memang sebelumnya saya merasa ingin sekali kembali kepada Allah, namun masih bingung bagaimana caranya. AlhamduliLlah saya bisa dipertemukan dengan ustadz-ustadz yang cerdas dan bisa mengalahkan ego kesombonganku saat itu dengan penjelasan serta dalil yang sistematis dan tak bisa diterima oleh pikiran dan hati pendengarnya.

2. Panitia Yang Mengawal Acaranya

Panitia pesantren akbar ini terdiri dari beberapa panitia ikhwan dan belasan panitia akhwat. Dari sisi pakaian dan penampilan, panitia ikhwan tidak banyak berbeda dengan panitia ikhwan pada acara pesantren kilat lain yang pernah saya ikuti. Namun panitia akhwatnya sedikit berbeda, yakni kebanyakan dari mereka menggunakan niqob alias cadar, belum pernah saya mengikuti pesantren kilat yang di dalamnya ada panitia akhwat bercadar.

Namun sebenarnya bukan hal itu saja yang menjadikan pesantren kilat akbar ini terasa berbeda dari pesantren kilat sebelumnya. Hal lain yang menjadikannya berbeda adalah kehati-hatian panitia ikhwan dan panitia akhwat dalam berkomunikasi, yakni mereka sangat menjaga diri dari yang namanya khalwat (berdua-duaan dengan bukan mahrom di tempat yang sunyi).

Sering saya perhatikan, ketika panitia ikhwan berpapasan dengan panitia akhwat, mereka mengucapkan salam, namun mata mereka semuanya menunduk dan tidak melihat ke arah lawan bicaranya. Belum lagi saat panitia ikhwan membutuhkan sesuatu kepada panitia akhwatnya, maka biasanya panitia ikhwan ngobrolnya dari balik tembok, tidak berhadapan langsung dengan panitia akhwatnya, terdengar sedikit aneh memang.

Berbeda dengan panitia pada pesantren kilat sebelumnya yang pernah saya ikuti, mereka terlihat akrab sekali antara satu dengan yang lain, seolah tidak ada sekat dan pembeda antara panitia ikhwan dengan panitia akhwat. Hal ini memang bukan hal yang aneh bagiku, karena memang kehidupan kami di OSIS dan Paskibraka tidak jauh berbeda, malah kami sepertinya sedikit lebih "berani" dalam hal ini.

Dari perbedaan cara bergaul panitia ikhwan dan akhwat yang cukup mencolok ini, saya jadi mengerti akan satu hal. Ternyata jika syari'at (hukum) di dalam Islam itu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari kita, maka tentu hal tersebut akan menambah keimanan serta rasa takut kita kepada Allah. Di samping itu, dari sini saya tahu mana panitia yang betul-betul serius ingin berdakwah dan mengajak pada kebaikan dan mana panitia yang hanya sekedar menjalankan kewajiban sebagai panitia pengawal acara saja. Bagaimana mungkin orang yang serius mengajak orang lain pada kebaikan, sementara dirinya malah mencontohkan sesuatu yang tidak baik?

Jika kebaikan adalah seperti makanan
Nikmat dan lezat dilihat dari tampilan
Mengundang selera dengan aroma yang dihasilkan
Apakah ia akan disantap atau hanya dibiarkan?

Sungguh, makanan yang lezat tidak akan bermanfaat
Tatkala kita hanya bisa berkomentar dan cuma melihat
Tak ada upaya untuk mencicipi juga usaha untuk menyantap
Bisakah ia mengenyangkan dan terasa nikmat?

Bersambung in syaa Allah

Next : Hari Pertama Di Jalan Hijrah (2)

Minggu, 17 Juli 2016

Seri 2 : Ajakan Kebaikan

Di sekolah aku termasuk siswa yang aktif mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler, seperti OSIS dan Paskibraka. Belum lagi ada kegiatan tambahan dari bapak KaJur (Kepala Jurusan) di luar jam pelajaran yang lumayan padat, tak heran jika saat itu waktu di sekolah jauh lebih banyak ketimbang waktu bermain di rumah. Karena sekolahku memang unik, tak seperti sekolah lain pada umumnya, ada hikmah besar kenapa Allah pilihkan sekolah ini untukku (Soon : Pilih SMK atau SMA)

Di OSIS dan Paskibraka pun sebenarnya kegiatan kita cukup padat, terkadang kita studi banding ke sekolah-sekolah lain untuk saling tukar pengalaman kegiatan OSIS mereka, atau menghadiri undangan kegiatan dari OSIS sekolah lain yang rutin diadakan minimal sebulan sekali. Di Paskibraka sendiri, kita rutin refreshing ke alam (biasanya ke bumi perkemahan atau naik gunung) setiap sekali dalam sebulan. Sepekan sekali kita ada acara khusus silaturahmi ke rumah pengurus OSIS dan Paskibraka, kebetulan anak-anak Paskibraka saat itu mayoritas adalah "penguasa" di OSIS, hehehe.

Karena jadwal yang padat ditambah seringnya kita kumpul bareng, menjadikan kita saat itu sangat akrab sekali, bahkan melebihi akrabnya saudara kandung sendiri. Jika ada salah satu pengurus yang sakit atau kena musibah, maka pengurus yang lain pasti langsung bergerak untuk sekedar menghibur dan mengumpulkan dana bantuan jika memang diperlukan. Hal ini salah satu kenangan yang kurasa sulit dilupakan dari sekolahku saat itu, banyak teladan juga pelajaran positif yang bisa diambil sebagai bekal dalam bergaul juga berjamaah. Walau harus diakui, saat itu boleh dibilang mayoritas kita masih jahil, belum banyak yang faham apa itu khalwat, juga masih banyak yang senang dan happy ketika bermaksiat.

Suatu ketika, ketua OSIS kami ikut sebuah kegiatan yang diadakan oleh sebuah lembaga dakwah, namun saat itu ketua OSIS tidak mewakili sekolah atau OSIS, ia ikut atas nama pribadi katanya. Entah kenapa semenjak ikut acara tersebut, ada perubahan yang terjadi pada diri ketua OSIS, sebelumnya ia orangnya rame, sekarang jadi lebih banyak diemnya. Kalau ngomong juga gak banyak becandanya, malah terkesan lebih serius dari sebelumnya. Tentunya perubahan seperti ini di kalangan kami sangat mencolok dan menimbulkan banyak tanda tanya, apa yang terjadi sebenarnya?

Sampai suatu hari, ketua OSIS angkat bicara, ia mengatakan sepertinya OSIS kita perlu mengaktifkan kegiatan di Bidang Keagamaan, khususnya Kegiatan Agama Islam. Karena memang selama ini kegiatan agama Islam tergolong vacum, hanya saat hari-hari besar saja mulai aktif dan kelihatan nuansa keislamannya.

Saat itu ketua OSIS sudah menyiapkan beberapa draft kegiatan yang bisa dihandle oleh Bidang Keagamaan ini, salah satunya adalah Pesantren Kilat. Ketua OSIS juga mengusulkan bisa gak kira-kira sekolah kita membentuk Rohis (kerohanian Islam) yang nantinya bisa mengakomodir pengajian rutin pekanan di masjid sekolah. Tapi karena emang dasarnya mayoritas kita adalah orang yang masih ababil (baca: abege labil), tentunya usulan dan masukan dari ketua OSIS saat itu cuma ditanggapi dingin, malah terkesan gak didukung, termasuk aku yang saat itu dipercaya memegang juru kunci Bidang Keagaaman :D

"Untuk apa sih dibentuk rohis? Paling juga gak ada yang ikut nantinya. Trus biaya darimana untuk ngundang ustadz nanti?", aku mencoba mewakili isi hati juga keberatan sebagian besar anggota lain yang kelihatan kurang setuju dengan rencana ketua OSIS. Namun emang ketua OSIS ini cerdas dan pinter berargumen, ia mengatakan, "Daripada dana OSIS kita menguap dan gak kepake, bukankah sebaiknya dialihkan untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat?"

"Soal ustadz dan pematerinya, aku yang tanggung jawab terkait ongkos dan lain-lainnya", sambung ketua OSIS

Betul saja, semuanya terdiam gak bisa membantah argumen ketua saat itu. Apalagi ia membawa-bawa persoalan dana OSIS yang memang saat itu kami tahu betul berapa nomimal yang dianggarkan sekolah untuk kegiatan-kegiatan OSIS. Dan parahnya, jika OSIS minim kegiatannya, maka biasanya anggaran tersebut akan "disunat" oleh beberapa oknum pejabat di dalam komite sekolah, ini adalah rahasia umum yang sudah sama-sama diketahui oleh hampir seluruh pengurus OSIS yang aktif.

"Kalau kalian setuju, menjelang liburan semester nanti bakal ada acara Pesantren Kilat Akbar, dan sekolah kita ditunjuk oleh ketua panitianya sebagai tuan rumah"

"Maksudnya Akbar gimana?", tanya salah seorang pengurus yang dari tadi menyimak diskusi

"Maksudnya pesantren kilat ini pesertanya dari hampir seluruh sekolah-sekolah menengah di Sumut, kayak MAN Padang Sidempuan, MAN Sibolga, beberapa SMK dari Binjai, Langkat, Asahan dan tentunya dari Medan"

"Wooow... acaranya luar biasa kalo gitu ya pak ketua. Butuh biaya dan fasilitas yang banyak tuh berarti", aku mulai tertarik dengan acara ini

"Sebenarnya semua pendanaan dan penyediaan fasilitas, termasuk konsumsi, udah dihandle team kepanitiaan mereka. Kita cuma diminta menyediakan tempat untuk peserta putra dan putri, juga auditorium untuk acaranya nanti"

"Cuma itu doang?"

"Iya, gampang kan?"

"Kecil kali lah kalo cuma itu, nanti aku yang lobby pak Sembiring. Trus sekolah kita siapa yang mewakili?"

"Kayaknya ente wajib ikut, kan ente Kabid Keagamaannya, hahaha. Trus ente pilihlah 2 orang lagi anggota ente untuk ikut"

Sejenak kami saling melempar pandangan satu ke yang lain, terlihat jelas dari raut wajah dan bahasa tubuh yang tertangkap, tidak ada yang berminat ikut acara seperti ini. Entah apa alasannya, yang jelas dalam benakku pun pasti acara seperti ini akan membosankan, harus tidur larut malam alias begadang, dengerin ceramah setiap hari, dilarang ini itu dan kengerian lain yang membayangi di dalam kepala.

"Yaudah, daftarin namaku dulu. Ada syarat lain gak? Trus acaranya pastinya kapan?" akhirnya ku iyakan tawaran yang sedikit memaksa dari ketua OSIS. Masuk akal juga sih, masa KaBid Keagamaan malah gak ikut mewakili tuan rumah, ketua OSIS menang!

"Acaranya pekan depan, pas hari bagi rapot bro. Acaranya cuma 6 hari kok, gak nyampe sebulan, hahaha"

"Okelah, ada syarat lain yang harus dipenuhi atau dipersiapkan?"

"Gak ada kayaknya. Yaudah hari sabtu depan habis bagi rapot langsung kumpul di kantor ya, registrasi ulang", ketua OSIS pun mengakhiri diskusi hari itu.

AlhamduliLlah... Allah telah beri kesempatan
Untuk mengakhiri segala jerat dosa dan kemaksiatan
Yang mulai menumpuk dan hampir karatan
Bahkan banyaknya akan bertambah tak terelakkan
Jika tidak atas pertolongan Allah yang menyelamatkan.

AlhamduliLlah... Jalan ini memang tak terduga
Tiba-tiba terbentang untuk atas izin-Nya
Walau sempat ragu diri untuk menempuhnya
Karena takut bayangan dan nafsu semata
Namun akhirnya ia datang sebagai pembuka

AlhamduliLlah...
Pada akhirnya Pesantren Kilat Jalan Menuju Taubat
Walau datangnya agak sedikit terlambat
AlhamduliLlah, nafas belum tersendat
Ruh di tubuh juga masih menyemat.

Next : Hari Pertama Di Jalan Hijrah

Sabtu, 16 Juli 2016

Pesantren Kilat, Jalan Menuju Taubat

Saat itu sekolahku menjadi tuan rumah dari acara pesantren kilat akbar di kotaku, dikatakan akbar karena memang peserta yang ikut acara ini berasal hampir dari seluruh sekolah menengah, seperti MAN, SMK, dan SMA yang ada di kota Medan.

Walau peserta yang ikut tidak se-akbar nama acaranya, namun hampir seluruh sekolah menengah saat itu mengirimkan utusannya untuk mengikuti acara Pesantren Kilat Akbar se-Kota Medan ini, dan akupun diutus untuk mewakili sekolahku. (Ada kisah unik dan lucu saat saya ditawari untuk ikut acara pesantren kilat ini, mudah-mudahan nanti bisa ditulis sambil dikumpulin lagi potongan-potongan memori yang mulai terlupa, hehe)

Pesantren kilat ini dilaksanakan selama 6 hari, dimana setiap harinya peserta diberikan materi-materi dasar dalam ilmu Islam, seperti Hakikat dan Tujuan Dasar Penciptaan Manusia, Modal Untuk Beribadah, Pentingnya Mempelajari Syahadat, Konsekuensi serta Pembatal Syahadat, Dasar Ushul Tsalaatsan, Ma'rifatuLlah, Ma'rifaturrasul, Ma'rifatuddien dan materi-materi lain yang bagiku merupakan pengalaman serta ilmu baru yang belum pernah kudapat baik di sekolah maupun buku-buku agama yang kumiliki, prihatin.

Hari demi hari kulewati dengan banyak sekali air mata yang tertumpah, betapa tidak, ternyata selama ini aku bagai zombie (mayat hidup) yang berjalan kesana kemari tak jelas apa yang dituju dan apa yang dicari. Hampir seluruh waktu kuhabiskan hanya untuk memuaskan nafsu yang tiada ujung dan pangkalnya untuk diikuti, seolah meminum air laut yang sangat asin rasanya, niat hati ingin menghilangkan dahaga dengan meminumnya, namun malah semakin diminum semakin bertambah haus dan penasarannya, setidaknya begitulah selama ini yang kurasakan dalam hidup ini.

Raga rasa haus yang sangat
Namun hanya ada air laut yang terdekat
Diri coba minum agar terasa nikmat
Harapan agar dahaga hilang terbabat
Ternyata hanya nikmat sesaat
Setelahnya tenggorokan pun rasa tercekat

Puncaknya, diriku mulai tumbang dalam hempasan penyesalan dan ketakutan yang membayangi saat memasuki hari terakhir acara pesantren kilat ini. Terbayang banyaknya investasi dosa yang sudah dikerjakan, juga episode kelam yang terlanjur mengisi drama kehidupan.

Dengan azzam dan tekad yang sudah kubulatkan, aku berjanji kepada Allah ﷻ dan diri ini untuk sesegera mungkin berubah dan bertaubat serta kembali ke dalam dekapan Islam yang menentramkan. Salah satu momen yang mempengaruhiku saat itu adalah sebuah renungan yang disampaikan oleh seorang Ustadz pembimbing pada acara pesantren kilat tersebut.

Ustadz menyampaikan sebuah renungan yang sangat mendalam serta menusuk-nusuk dada ini, seolah renungan tersebut bak pisau tajam yang tepat ditancapkan ke dadaku. Lalu karena ketajamannya, pisau itu mampu menembus kulit dan terus masuk ke dalam jantungku, dalam dan sangat mematikan sehingga aku pun tak berdaya dan terkulai lemas dibuatnya. Tikaman tajam tersebut mampu membangunkan aku dari kelalaian serta "tidur" panjangku, ia juga mampu menghancurkan tembok-tembok hedonisme yang berdiri kokoh di dalam hidupku, alhamduliLlah...

Pada saat itu, Ustadz (semoga Allah senantiasa menjaga dan membalas setiap kebaikannya) mengangkat satu ayat di dalam Al Quran, yaitu ayat ke-179 di dalam surah Al A'raf, dimana Allah berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf : 179)

Allah Akbaar... setiap kali membaca ayat ini, serasa diri ini masih merasakan getaran dari ayat ini saat pertama kali mendapatkan penjelasannya.

Di antara yang disampaikan Ustadz sehingga mampu menyadarkan aku saat itu adalah, orang-orang yang tidak pernah mau menggunakan matanya untuk melihat dan membaca ayat-ayat Allah (baik yang tersirat di dalam Al Quran atau yang tersurat di alam sekitar), orang yang tidak mau menggunakan telinganya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Allah atau mendengarkan majelis/halaqah yang membahas ayat-ayat Allah, serta orang yang punya hati namun hatinya senantiasa lalai dari berdzikir kepada Allah, akan mendapatkan siksaan dan kerugian yang berat dan besar, baik di dunia maupun di akhirat.

Kemudian Ustadz melanjutkan, siksaan di dunia berupa derajat serta tingkah laku (akhlak) yang tak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih sesat dan lebih hina lagi. Dan nanti di akhirat (jika tidak mau bertaubat) akan dicampakkan ke dalam Neraka Jahannam yang merupakan dasar serta tempat dimana api-api yang berada pada neraka lainnya dinyalakan. Ngeri rasanya saat membaca dan membayangkan bagaimana kengerian yang disajikan di dalam neraka Jahannam ini. Padahal kita tahu bahwa api neraka pada tingkat yang paling ringan saja, yang mana apinya "cuma" setinggi mata kaki kita, sudah mampu meledakkan dan menghancurkan isi kepala kita, apatah lagi dengan Jahannam ini, yang mana ia merupakan tingkatan neraka yang paling berat siksaannya serta paling dalam dan besar kobaran apinya, wal iyadzu biLlah...

Kontan penjelasan dari Ustadz membuat hampir seluruh peserta pesantren kilat menangis dan bergidik ngeri, pun termasuk aku. Aku yang dikenal teman-teman suka tertawa dan rame, saat itu hanya mampu menangis, shock dan ketakutan dengan rasa takut yang sangat. Betapa memang selama ini aku hampir tidak pernah membaca Al Quran (apalagi menghafalnya), menghadiri majelis ilmu serta berdzikir, lalu bagaimana nasibku jika aku mati saat dalam keadaan seperti itu? Allahu Akbaar... segala puji bagi Allah yang masih memberi kesempatan kepadaku untuk bisa hidup dan belajar serta memperbaiki diri hingga saat ini, alhamduliLlah...

Maka mulai saat itu, aku putuskan aku harus berubah dan bertaubat kepada Allah atas dosa dan kesalahan yang selama ini telah aku lakukan dalam hidupku.

Setelah acara tersebut, aku pun mulai aktif mengikuti majelis-majelis ilmu serta perlahan-lahan mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jelek yang sudah menjadi program harianku selama ini. Termasuk semua koleksi kaset dan CD yang kumiliki, serta gitar dan berbagai pernik aksesoris kejahiliyahanpun aku buang dan sebagiannya aku hancurkan, karena aku khawatir hal tersebut akan menarik perhatianku lagi untuk kembali menyenanginya.

Rabu, 29 Juni 2016

Ada Apa Dengan Bus?

Jika antum sedang berada di atas sebuah bus, lalu kemudian tanpa sepengetahuan dan izin dari kita, bus tersebut melewati jalan yang berliku, atau jalan yang banyak lubangnya, atau jalan yang penuh dengan kemacetan sehingga menyebabkan kita jenuh, dongkol, capek, kesal, sedih dan perasaan-perasaan yang semisal dengannya, apa yang antum lakukan saat itu?

"Mau gak mau ya harus sabaar duduk di dalam bis dong"

Betul sekali...

Kita tidak mungkin memprotes supir karena hal tersebut kan?

"Oy pak supir, kenapa sih harus lewat jalan ini?"

"Plis deh pak supir, emang gak ada alternatif rute yang lain apa?"

NO... saya rasa tidak mungkin hal ini terjadi. Karena kita mesti percaya sepenuhnya kepada pak supir, kita yakin bahwa pasti pak supir sudah berpengalaman, juga sudah memperhitungkan dengan baik rute yang akan ditempuhnya tersebut, sedangkan kita selaku penumpang, harus pasrah dan percaya sepenuhnya bahwa kita pasti akan dibawa sampai ke tujuan kita, deal ya?

Sekarang coba lihat diri kita guys, coba bayangkan jika saja hidup kita saat ini selayaknya perjalanan menggunakan bus tersebut, Allah ﷻ adalah "supirnya", sedang kita adalah penumpangnya.

Sebagai penumpang, tentu kita ingin agar bus yang kita tumpangi segera sampai ke tujuan kan, kita ingin agar di perjalanan ini semuanya nyaman, aman juga tidak ada hambatan dan halangan. Bener banget, semua pasti menginginkan hal tersebut.

Lalu bagaimana jika ternyata kenyataan yang kita hadapi tidak seperti ingin dan harapan kita? Apa yang akan kita lakukan? Sudah terjawab!!!

Kita harus yakin dan percaya sepenuhnya kepada Sang "Supir", yakni Allah ﷻ. Dia adalah dzat yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Dia juga dzat yang paling faham bagaimana rute yang harus kita lewati agar kita cepat sampai ke tujuan kita.

Walau terkadang rute tersebut banyak lubang-lubangnya, penuh lika liku, bahkan harus disertai isak tangis, emosi, juga kejenuhan yang luar biasa dahsyatnya. Kita TIDAK BOLEH PROTES apalagi berputus asa!!!

Percayakan sepenuhnya rute kehidupan kita kepada-Nya, lalu berbaik sangkalah kepada-Nya atas setiap rasa dan asa yang hadir di tengah perjalanan ini. Dan yakinlah, tidak akan datang setelah semua yang kita alami dalam perjalanan ini kecuali SAMPAINYA KITA PADA TUJUAN DENGAN SELAMAT...

BaarakaLlahu fiikum...

Semoga bermanfaat

�� Satria Ibnu Abiy

Senin, 09 Mei 2016

Antara Tsubasa dan Si Kancil

Banyak orang tua yang mungkin belum sadar tentang betapa pentingnya untuk selalu menyaring dan memilih dengan sangat hati-hati, apa yang akan dibaca dan dipelajari oleh anak-anaknya. Mulai dari buku bacaan, hingga tontonan yang sering menjadi rutinitas harian seorang anak, hendaknya mulai diperhatikan.

Mungkin ada yang bertanya, "Apa sih pengaruh bacaan terhadap seorang anak? Ia kan belum bisa berfikir!"

Anak memang belum bisa berfikir mana yang baik dan mana yang buruk bagi diri mereka, akan tetapi mereka selalu cenderung suka meniru dan mencontoh tokoh-tokoh di dalam kisah yang sedang mereka baca atau mereka tonton. Belumkah kita sadar?

Mari sini kita sedikit mengintip secuil sejarah dari negeri sakura, apakah antum kenal dengan Captain Tsubasa?

Semenjak negara mereka diluluh lantakkan oleh dua bom atom, perlahan namun pasti negara mereka mulai merangkak menuju sebuah perubahan dan kemajuan yang luaaar biasa pesat. Dan ternyata salah satu upaya pemerintah disana adalah memberikan pembinaan mental dan spritual kepada seluruh warganya, salah satu metodenya adalah dengan memberikan bahan bacaan (buku maupun komik) yang berkualitas khususnya kepada anak-anak mereka sebagai generasi penerus bangsa. Apa hubungannya dengan Captain Tsubasa?

Sebelum komik Captain Tsubasa lahir, Jepang hanya meraih medali perunggu di Olimpiade tahun 1968. Lalu coba bandingkan dengan prestasi mereka sejak komik Tsubasa muncul. Tahun 1992, mereka JUARA Piala Asia untuk pertama kalinya di rumah sendiri. Sejak itu mereka seolah menjadi kiblat sepakbola asia dengan meraih tiga gelar lagi dan menjadi pemilik gelar Piala Asia terbanyak!!!

Antum kenal Nakata? Ternyata inspirasi Hidetoshi Nakata untuk bermain bola adalah tokoh sepakbola fiksional, yaitu Tsubasa Ozora. Pun kiper Jepang di Piala Dunia tahun 1998, Seigo Narazaki, mengaku bahwa semasa kecil ia kerap membaca komik Captain Tsubasa. Prestasi sepakbola Jepang memang meningkat sejak adanya Captain Tsubasa. (http://princedevitto.tumblr.com/post/136731280132/komik-sepakbola-sebagai-inspirasi)

Sudah mulai percaya?

Kalau belum, mari kita kembali ke negeri kita yang tercinta ini, lalu coba intip apa bacaan kita dulu semasa kecil? Kisah apa yang sering diperdengarkan kepada kita?

Betuuul... kisah yang kerap diperdengarkan dan dibacakan ke kita adalah KISAH SI KANCIL yang (katanya) cerdik. Apa yang salah?

Coba deh diingat-ingat, kisah kancil seperti apa sih yang membekas di dalam diri kita?

"Si Kancil MENCURI Mentimun"

"Si Kancil MENIPU Buaya"

Benar?

Sudah mulai sadar?

Coba deh perhatikan, karena dulu semasa kecilnya kita sering sekali dicekoki dengan cerita si kancil ini, akhirnya sekarang saat udah gede, banyak yang KORUPSI (Baca : Mencuri) dan MENIPU!!! Luaaaar biasa...

Itulah mengapa seharusnya mulai saat ini, detik ini, hendaknya kita para orang tua, guru atau pendidik, mulai memberikan bahan bacaan juga kisah-kisah yang bisa dijadikan contoh dan teladan bagi anak-anak kita dikala mereka dewasa nanti.

Sebagai umat Islam, kita memiliki segudang kisah indah penuh petuah dan pelajaran berharga dari tokoh-tokoh kita, bahkan di dalam sejarah RasuluLlah ﷺ dan para sahabat-sahabatnya yang mulia, banyak terpendam harta berharga yang belum tergali dan bisa dijadikan warisan yang sangat indah untuk generasi muda kita. Bacakanlah untuk mereka kisah-kisah indah di dalam kehidupan RasuluLlah ﷺ, juga perdengarkanlah kepada mereka kisah luar biasa dari perjalanan para sahabat yang mulia...

وَ اللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّاب

(Satria Ibnu Abiy)

Sabtu, 19 Maret 2016

Titipkan Anak Kita Pada Allah

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Maka tatkala isteri ´Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (QS. Ali 'Imran : 36)

-*-*-

Selepas sholat, saya biasanya duduk sebentar untuk ngobrol atau hanya sekedar bertegur sapa dan bertukar kabar. Walau ngobrolnya cuma sebentar, tapi lumayan banyak pelajaran dan juga manfaat yang bisa saya dapatkan melalui rutinitas seperti ini. Salah satunya adalah saat saya berdiskusi ringan dengan salah seorang Ustadz terkait metode beliau di dalam mendidik anak-anaknya.

Perlu diketahui, anak-anak beliau ini terkenal akan keaktifan, nurut, dan bisa nyenengke (bahasa jawa, artinya menyenangkan) banyak orang. Dan yang saya heran itu, hampir semua orang yang kenal anak-anak beliau mesti merasa ada "sesuatu" yang lain dengan anak-anak tersebut. Entah karena emang lucu, atau karena anaknya penurut dan imut, hehehe

Pernah suatu ketika, saat saya mau keluar ke AlfaMart, si bungsu ;namanya Ayyash; langsung mendekati saya sambil ngomong gini, "Ami (paman atau om) capek gak? Ayyash pijit mau?". "Emang Ayyash bisa mijit?" tanyaku sambil nahan ketawa karena lucu dan takjub dengan polanya itu :D

"Bisa don" (karena Ayyash belum bisa ngomong "dong") :D

"Nanti malam aja ya Ayyash, ami mau keluar dlu"

"Ami mau belanja ya? Ayyash ikut ya?" tak disangka ia ngomong begini sambil mencium pipi saya, hehehe (entah siapa yang ngajari nih) :D

Kira-kira seperti itulah secuil kisah lucu dan ngangenin Ayyash dan kakak-kakaknya yang hampir mirip pola dan tingkahnya itu.

-*-*-

Siang ini saya berkesempatan duduk bareng abinya Ayyash. Karena penasaran, saya akhirnya buat diskusi ringan dengan beliau,

Saya, "Anak-anak antum lucu ya ustadz, ngangenin lagi, hehehe..."

Ustadz, "AlhamduliLlah... makanya cepet punya anak :D"

Saya, "Hehehe (sambil nangis dalam hati). 'Ala kulli hal, gimana sih antum mendidik anak-anak antum? Kok sepertinya mereka bisa nurut, trus gak nakal kayak yang lain. Padahal saya perhatikan mereka sering antum lepas maen keluar kan ya?"

Ustadz, "Iya, ana memang sengaja tidak pernah mengekang anak-anak main. Nanti kalo capek dan ngantuk kan pulang sendiri"

Saya, "Tapi kan di luar banyak anak-anak yang nakal ustadz, apa antum gak takut anak antum dipengaruhi atau ikut-ikutan nakal?"

Ustadz, "Yang antum lihat gimana mereka? Ada indikasi terpengaruh atau ikut-ikutan ndak?

Saya, "Ndak sih ustadz, hehehe... Jadi rahasianya apa ustadz? Barangkali bisa ana praktekin besok hari (ihiiiiiir)"

Ustadz, "Seperti yang ana singgung sebelumnya, anak gak mau terlalu mengekang anak-anak. Kalo jadwalnya mandi, ana cukup menyediakan airnya di ember dan perlengkapan mandi aja. Kalo jadwalnya makan, ana cukup menghidangkan makanan saja, biasanya sih kita makan senampan berdua dengan uminya. Termasuk ketika mereka mau maen keluar rumah, ana ndak pernah menghalangi apalagi melarang mereka, karena mereka udah ana titipkan kepada Allah ﷻ!!!"

Saya, "Maksudnya gimana ustadz? Bisa dijelaskan ndak? Mudah-mudahan saya bisa mengambil manfaat darinya"

Ustadz, "Coba antum bacakan ayat ke-36 Surah Ali Imran"

(Setelah saya bacakan ayat yang diminta)

Ustadz, "Itu rahasianya akhi"

Saya, "Bisa dijelaskan lebih detail lagi ndak ustadz? BaarakaLlahu fiik"

Ustadz, "Ayat tersebut berisi sebuah doa yang sangat mulia, doa dari seorang ibu wanita yang juga mulia (Maryam), yang kelak di hari berikutnya juga akan memiliki seorang cucu yang juga mulia (yaitu Nabi Isa). Coba antum perhatikan doa indah yang diucapkan ibunya Maryam ini,

إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk"

Ustadz, "Doa ini yang senantiasa ana bacakan saat melepas anak-anak keluar rumah akhe. Biasanya sebelum keluar rumah, anak-anak saya peluk dan cium keningnya sambil saya usap kepalanya, lalu saya bacakan doa tersebut. Dengan demikian anak-anak udah saya pasrahkan kepada Allah ﷻ terhadap penjagaan dari setan dan bala tentaranya dari kalangan manusia juga jin"

Saya, "Maa syaa Allah ﷻ... sungguh beruntung saya saat ini duduk bersama antum ustadz. BaarakaLlahu fiik"

Ustadz, "Perlu antum catat akhe, sebagai manusia, kami ini juga punya keterbatasan dalam memantau dan mengawasi anak-anak. Seringnya malah mereka itu hilang dari pandangan kami. Apalagi antum tahu sendiri kan gimana aktifnya anak-anak seusia mereka itu"

Saya, "Iya ya ustadz"

Ustadz, "Oleh sebab itu, kita harus menitipkan penjagaan mereka kepada Allah ﷻ, Dzat yang bisa mengawasi seluruh makhluknya 24 jam tanpa henti. AlhamduliLlah... benarlah firman Allah ﷻ,

وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

"...dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku." (QS. Maryam : 4)

Saya, "Maa syaa Allah ﷻ... Ana uhibbuka fiLlah yaa ustadz..."

Ustadz, "AhabbakaLlahu alladzi ahbabtany lahu"

-*-*-*

Jika anak yang ingin didoakan adalah laki-laki, maka doa yang diucapkan,

إِنِّي أُعِيذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Inni u'idzuhu bika wa dzurriyyatahu minasy syaithoonir rajiim

Namun jika anaknya adalah wanita, maka doanya,

إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Inni u'idzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaithoonir rajiim

بارك الله فيكم

Semoga Bermanfaat

Saudara kalian yang faaqir

Satria Ibnu Abiy

Popular Posts

Supported By:

Supported By:
warungkoski.com
Diberdayakan oleh Blogger.